Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Muara Akhir Kisruh Sumbangan Rp 2 Triliun, Pengamat: Permintaan Maaf Kapolda Langkah Tepat

Saya ingat cerita di Sherlock Holmes karena nanti semua peristiwa ternyata semakin lama semakin berkembang. 

Editor: Soegeng Haryadi
DOK. PRIBADI
Pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Husni Thamrin. 

IRJEN Pol Eko Indra Heri meminta maaf terkait kegaduhan akibat sumbangan dari keluarga mendiang Akidi Tio. Permintaan maaf dari Eko ini mendapatkan apresiasi dari berbagi pihak. Namun, tak sedikit pula yang menuntut agar dia juga diberikan sanksi. Bagaimana tanggapan Pengamat Kebijakan Publik Universitas Sriwijaya, Muhammad Husni Thamrin (H) terkait hal ini, berikut wawancara khusus dengan Kepala Newsroom Sriwijaya Post - Tribun Sumsel, Weny Ramdiastuti (W).

******

W: Kapolda (Eko) sudah meminta maaf terkait sumbangan dari keluarga Akidi Tio. Apakah tindakan ini sudah cukup tepat? Dari sisi waktu juga apakah sudah tepat karena dari pemberian sumbangan sudah seminggu lebih?
H: Tadi pagi saya menonton juga saat pak Kapolda minta maaf. Pertanyaannya terlambat atau tidak? Saya pikir tidak terlambat. Karena begini it's suppose to be. Tidak ada pilihan. Sudah tepat. Ini yang sudah seharusnya dilakukan terlepas karena kalau harus jujur kita tidak boleh melimpahkan semua kesalahan kepada pak Kapolda. Seolah-olah ini kecerobohan pak Kapolda.

Saya ingat cerita di Sherlock Holmes karena nanti semua peristiwa ternyata semakin lama semakin berkembang. 

Saya pikir kenapa tidak (minta maaf) kemarin? Itu karena terlalu tergesa-gesa.

Jangan-jangan bukan hanya kita yang tidak paham konstruksi peristiwanya sebenarnya tetapi masing-masing pihak yang berhubungan dalam sumbangan itu belum mengkonstruksi peristiwa. Peristiwa ini, cerita ini, tidak semua diceritakan sehingga tidak semua saling tahu.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Heryanty punya cerita sendiri kita tidak tahu, Prof Hardi punya cerita sendiri. Kapolda ternyata menyampaikan tentang dia mendapatkan informasi dari Kadinkes. Ini karena kadang-kadang dalam komunikasi kita mengalami proses reduksi jadi pada intinya (permintaan maaf) itu yang harus dilakukan. Saya apresiasi (permintaan maaf itu).

W: Jadi, Anda mengapresiasi soal tidak tepat atau tepat karena masing-masing punya cerita yang tidak bisa diungkapkan secara telanjang ke publik, begitu ya?
H: Saat berkomunikasi ada yang kita reduksi. Misalnya, saya saat berkomunikasi, pasti ada yang saya reduksi di kepala saya waktu saya sampaikan dari cerita mensistemisasikan pembicaraan saya. Pasti ada reduksi datanya.

W: Jadi, Anda setuju Kapolda meminta maaf? Diksi Kapolda meminta maaf mengapa tidak ada kata, "saya bertanggung jawab"?
H: Saya pikir cukuplah meminta maaf. Soal tanggung jawab karena ini juga menarik ceritanya. Pada 26 Juli lalu ada peristiwa penting dan tercatat, kita dapat sumbangan dana fantastis. Anti klimaks mulai 2 Agustus seakan-akan semua sepakat dari pemberitaan bahwa ternyata Heryanty brengsek, quote unquote.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved