Breaking News:

Wawancara Eksklusif

PPATK Sebut Sumbangan Rp 2 T Akidi Tio Mencurigakan, Lihat Kredibilitas Penyumbang: Meragukan

Menjanjikan sesuatu kepada masyarakat melalui pejabat publik, ini bukan sesuatu yang dianggap main-main.

Editor: Soegeng Haryadi
ISTIMEWA
Ketua PPATK Dian Ediana Rae 

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dian Ediana Rae mengungkap keraguannya keluarga Akidi Tio dapat memberi bantuan penanganan pandemi sebesar Rp 2 triliun. Doktor Hukum Keuangan tersebut saat bincang dengan Tribun Network, Selasa (3/8) lalu menegaskan ada ketidaksesuaian profil antar penyumbang dengan kondisi keuangannya. Berikut wawancaranya.

*******

Soal sumbangan Rp 2 Triliun, pendapat Anda?
Ini inkonsitensi. Kriteria mencurigakan. Ini harus kita klarifikasi, terkait transaksi-transaksi seperti ini. Menjanjikan sesuatu kepada masyarakat melalui pejabat publik, ini bukan sesuatu yang dianggap main-main.

Ini hal serius. Yang harus dipastikan oleh pihak PPATK. Seandainya kalau ini jadi, teralisir, PPATK harus memastikan dari mana uang Rp 2 triliun itu.

Misalnya jelas profilnye, bisnisnya besar, mungkin ini sudah clear. Tapi kalau tidak bisa diklarifikasi, sumber-sumber yang halal, tentu ini persioalan PPATK yang cukup serius.

Dan kalau ini tidak terjadi (tidak terjadi transfer Rp 2 triliun), ini mengganggu integritas sistem, mengganggu integritas pejabat dan tentu saja mengganggu integritas keuangan.

Baca juga: Akidi Tio Bukan Konglomerat Indonesia, PPATK Belum Temukan Transaksi Rp 2 Triliun

Sistem keuangan di Indonesia tidak bisa dipakai untuk main-main untuk melakukan suatu kejahatan.

Apa langkah Anda?
Kita bersikap hati-hati, sambil melihat faktor-faktor mencurigakan. Untuk memastikan, segala sesuatu berjalan dengan peraturan perundang-undangan. Begitu berita masuk, kita langsung analisa. Kita tuntaskan, sehingga mendapatkan jawaban clear bagi masyarakat.

Pemeriksaan terkait ini terus dilakukan?
Terus dilakukan sampai kita mendapatkan analisis, sampai apa yang kita sebut hasil analisis pemeriksaan PPATK. Menjadi tidak normal, ketika profiling dengan jumlah uang dan jumlah dan pejabat penerima kemudian menjadi persoalan, itu yang menjadi isu utama buat kita.

Kalau misalnya yang menyumbang 10 konglomerat terbesar di Indonesia, itu tidak jadi masalah. Nggak akan jadi isu karena profiling mereka sudah pas. Duit mereka banyak dan keuntungan korporasinya lumayan besar. Menyumbang 1-2 triliun, masyarakat tidak akan mempersoalkan.

Kredibilitasnya sudah terlihat, sehingga orang tidak mempermasalahkan. (tribun network/reynas abdila)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved