Breaking News:

Heriyanti Anak Akidi Tio Sakit

Kriminolog Mencium Motif Ambil Keuntungan Pribadi dari Kasus Sumbangan Rp 2 T Akidi Tio

Sri pun meyakini ada motif untuk ambil keuntungan pribadi dibalik aksi Heryanti yang ingin menyumbangkan harta peninggalan sang ayah.

Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Odi Aria Saputra
Satu unit mobil ambulans beserta satu orang tenaga kesehatan dan sopir kembali mendatangi kediaman Heriyanti di Jalan Tugu Mulyo Kecamatan IT I Palembang,  Rabu (4/8/2021) sekitar pukul 10.00. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Sosok Heryanti kini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.

Bagaimana tidak? Putri bungsu Akidi Tio ini tak kunjung mencairkan dana sumbangan sebesar Rp 2 triliun.

Tak hanya di kasus sumbangan bernilai fantastis ini saja, Heryanti rupanya sudah dua kali melakukan kasus keunganan yakni soal utang yang tak dibayar.

Pertama, utang bisnis fiktif senilai Rp7,9 miliar dan utang Rp2 miliar untuk mengurus harta ayahnya di Singapura senilai Rp 16 triliun beberapa tahun lalu.

Menurut Kriminolog Sumsel, Sri Sulastri, perilaku Heryanti yang terus berulang ini karena tidak ada proses hukum untuk dua kasus keuangan yang dilakukan putri Akidi Tio tersebut.

"Adanya pengulangan ini karena tidak ada efek jera baginya," ujar Sri, Rabu (4/8/2021).

Dijelaskan Sri, agar kasus ini tak kembali terulang harus dikenakan sanksi hukum bagi Heryanti.

Hal ini karena salah satu tujuan hukuman pidana selain untuk memenjarakan seseorang karena aksi kejahatan juga sebagai efek jera atau mencegah agar terjadi perilaku serupa.

"Untuk perbuatannya ke kapolda jelas ada unsur pidana Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana terkait penyebaran berita bohong.

Ini bisa menimbulkan keonaran dan akan muncul salah paham atau kecurigaan apalagi yang dihantam institusi kepolisian," jelasnya.

Sri pun meyakini ada motif untuk ambil keuntungan pribadi dibalik aksi Heryanti yang ingin menyumbangkan harta peninggalan sang ayah.

"Barangkali ada permasalahan di keluarga sehingga diberikan kepada orang lain. Ini polisi dihantam apalagi kapolda sekalian," kata Sri.

Dia menyarankan, sebaiknya saat ada seseorang atau pun perusahaan yang akan memberikan sumbangan dengan nominal besar terlebih dahulu harus dilakukan pengecekan asal dan kepastian dana yang akan diberikan.

Pengecekan ini harus dilakukan karena dikhawatirkan uang sumbangan bersumber dari kejahatan atau money laundering.

"Sumbangan itu ditujukan untuk bantuan, harus jelas apakah penanggulangan Covid-19 hanya lewat Polda saja, padahal bisa juga lewat pemerintah daerah," kata Sri.(mg3)

Baca juga: Makan Siang, Anak Mantu Akidi Tio Penyumbang Rp 2 T, Ketahun Pesan Ayam Geprek Promo

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved