Kebakaran Hutan dan Lahan

Peran Regu Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan  “Fire Hunter’’

Karhutla datangnya selalu tidak dapat diprediksi kapan datangnya, apa penye­bab­nya, tingkat cakupannya serta seberapa besar dampak yang ditimbulkan

Editor: Salman Rasyidin
ist
 Ilustrasi  Hutan rawan Karhutla  

Beberapa kesiapsiagaan yang dimiliki perusahaan tersebut, diantaranya;

meng­ikut­ser­ta­kan dan melibatkan masyarakat melalui keberadaan KMPA (Kelompok Masyarakat Peduli Api); menyiapkan beragam teknologi, seperti; menara pengawas api,  menara pe­ng­awas meng­gu­na­kan CCTV, Camera Thermal dan penggunaan drone untuk memantau gerak titik api diareal konsesi/Kebun dari waktu ke waktu.

Penyiapan peralatan damkar yang memadai, yang di­du­kung oleh personel (Regu Pe­madaman Kebakaran) yang terlatih, disertai dengan system ma­nagemen tanggap Darurat Kebakaran lahan maupun hutan yang telah terstruktur dan massive diinternal organisasi perusahaan tersebut.

Tidak menampik bahwa Kesiapan PT. Bumi Per­sada Permai (PT.BPP) untuk me­nang­gulangi permasalahan kebakaran hutan dan lahan ini ju­ga dilaksanakan seperti apa yang sudah dilaksanakan oleh beberapa perusahaan dibidang ke­hutanan maupun perkebunan lain yang berada di perovinsi Sumatera Selatan.

Pencegahan kebakaran hutan dan lahan seperti yang sudah dilakuakn beberapa per­u­sahaan yang telah melakukan evaluasi perbaikan terhadap system water managementnya dengan memperbaiki kanal bloking dan memperbanyak jumlah embung diinternal per­usahaan me­reka.

Bahkan sudah ada perusahaan yang mengajak beberapa pejabat SKPD terkait untuk me­ninjau dan melakukan fly over dilokasi kebun/konsesi mereka.

Ini merupakan contoh bahwa pe­rusahaan yang dimaksud telah memiliki daya dukung dan kesiapsiagaan untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran.

Hal tersebut diatas akan dapat menjadi Kesia-siaan belaka jika hanya perusahaan saja yang ber­jibaku dan berusaha seoptimal mungkin untuk pencegahan kebakaran lahan. Sebab, apa yang dilakukan hanya sebagian kecil dari sekian besar kejadian dibentang lahan atau Land­sca­pe diarea tersebut.

Walaupun mereka bisa memaintenance lingkungan kecil milik peru­sa­haan akan tetapi jika sebagian besar diluar area mereka dari bagian bentang lahan tersebut ter­bakar maka mereka akan seperti “semut yang terkurung oleh api”.

Meski kanal dan sys­tem telah dibuat sedemikian hingga ditambah faktor cuaca yang ekstrim.

Lama kelamaan air dikanalpun akan mengering baik disebabkan oleh tingkat penguapan yang terjadi ataupun kar­na faktor alam lain dikarnakan lahan tersebut merupakan lahan gambut  untuk itulah ker­ja­sama sangat diperlukan dari semua pihak.

Kali ini tidak ada keinginan dari penulis untuk menceritakan permasalahan penyebab dari kebakaran hutan dan lahan itu sendiri.

Akan tetapi penulis lebih ingin menceritakan ba­gaimana “Fire Hunter On Duty” dari Regu Pelaksana penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Dimana regu yang telah dibentuk baik itu oleh Pemerintah maupun pihak swasta se­lama ini notabene selalu menjadi kambing hitam atas terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Di dalam Standar Operation Prosedur yang diterapkan di Perusahaan dimana kami ber­na­ung dan memberikan contoh yang meng­haruskan kami melakukan Patroli kebakaran hutan dan la­han baik pagi, siang dan ma­lam.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved