Belasan Hektare Lahan Terbakar, BPBD Sumsel Butuh Tambahan 7 Helikopter Water Bombing  

Ancaman kebakaran lahan di Sumsel semakin tinggi, memasuki musim kering belasan hektare lahan terbakar di beberapa daerah

Tayang:
Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Azwir Ahmad
ho/sripoku.com
Helikopter water bombing lakukan penyiraman di lahan yang terbakar . Foto diambil 25 Juli 2021 lalu 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sejak beberapa hari terakhir belasan hektare lahan di kabupaten/kota di Sumsel hangus terbakar api.

Tim pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pun mulai tampak sibuk memadamkan api lewat helikopter water bombing. 

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Provinsi Sumatera Selatan, Ansori mengatakan provinsi Sumsel sudah mengalami musim kering sehingga sangat rentan terbakar, terbukti dalam beberapa pekan terakhir terjadi karhutla di Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten OKI yang menghanguskan belasan hektare lahan.

Untuk efektivitas pemadaman Karhutla,  Ansori menyebut paling tidak pihaknya butuh 12 unit helikopter water bombing. Dimana saat ini Sumsel baru memiliki lima helikopter water bombing hasil pinjaman dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) .

"Paling tidak kita butuh 12 unit helikopter supaya lebih efektif menanggulangi Karhutla di Sumatera Selatan seperti tahun 2020 lalu," katanya,  Rabu (28/7/2021).

Menurutnya, untuk saat ini Sumsel dibekali sebanyak lima unit Helikopter BW dengan total kemapuan menampung 5.000 liter air, jumlah tersebut masih terbilang kurang untuk menanggulangi  karhutla di sepuluh daerah yang ditetapkan berstatus siaga darurat.

Oleh sebab itu, penambahan unit Helikopter BW sangat dibutuhkan untuk mempermudah kerja satuan tugas (Satgas) Karhutla yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri Manggala Agni Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup wilayah Sumatera Selatan untuk menanggulangi peristiwa kebakaran.

Dari data BPBD Sumsel, hingga saat ini tercatat ada 811 titik panas atau hotspot yang tersebar di Sumsel.  

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin menjadi penyumbang terbanyak titik panas pada semester pertama yakni 146 titik dan 93  titik.  

Daerah lain yang memiliki hotspot terbesar lainnya Musi Rawas 89 titik,  Banyuasin 85 titik, Lahat 86, Pali 83 titik dan Muara Enim 57 titik. 

"Sepanjang semester pertama ini terpantau ada 811 titik. Paling banyak terjadi pada bulan Juli 256 hotspot," jelasnya. 

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim, Kebakaran Hutan dan Lahan (PPIKHL) Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menambahkan lahan gambut yang ada di wilayah Sumsel rata-rata cukup dalam, sehingga tidak cukup hanya mengandalkan penyiraman air dari udara namun mesti dilakukan penyiraman darat menggunakan selang.

Meskipun demikian, keberadaan Helikopter WB akan sangat membantu petugas bukan hanya untuk memadamkan api namun juga untuk memantau titik-titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat. 

"Saat ini tim masih bersiaga untuk mengantisipasi beberapa titik panas  yang dikhawatirkan akan kembali menimbulkan kebakaran dan meluas seketika," terang Ferdian.  (Oca) 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved