Sejarah BPUPKI yang Didirikan Bertepatan dengan Ulang Tahun Kaisar Hirohito, Merumuskan Dasar Negara

BPUPKI dibentuk pertama kali pada 1 Maret 1945. Kala itu, lembaga BPUPKI dibentuk oleh pemerintah Jepang.

Penulis: Welly Hadinata | Editor: Welly Hadinata
IST
Suasana pembentukan BPUPKI (Istimewa) 

SRIPOKU.COM - BPUPKI merupakan singkatan dari Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Adapun dalam bahasa Jepang, BPUPKI dikenal sebagai Dokuritsu Junbi Chosakai.

BPUPKI dibentuk pertama kali pada 1 Maret 1945. Kala itu, lembaga BPUPKI dibentuk oleh pemerintah Jepang.

Ketuanya adalah Radjiman Wedyodiningrat dan wakil ketua Hibangase Yosio (Jepang) dan Soeroso.

Tujuan dibentuknya BPUPKI yang utama adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal penting yang berhubungan dengan pembentukan negara Indonesia merdeka atau memperiapkan hal-hal penting mengenai tata pemerintahan Indonesia merdeka.

Selama BPUPKI berdiri, secara resmi melakukan sidang sebanyak dua kali.

Sidang pertama dilaksanakan pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Kemudian sidang kedua dilaksanakan pada 10 Juli hingga 17 Juli 1945.

BPUPKI tidak lantas asal berdiri begitu saja, ada tugas dan tujuan dibentuknya BPUPKI.

BPUPKI beranggotakan 67 orang, yang terdiri dari 60 orang Indonesia dan tujuh orang Jepang yang bertugas mengawasi.

Kurang lebih empat bulan berdiri, BPUPKI kemudian dibubarkan pada 7 Agustus 1945. Hal itu dikarenakan tugas-tugasnya sudah selesai dilaksanakan.

Sejarah BPUPKI

Dilansir dari buku Sejarah Nasional Indonesia: Masa Prasejarah Sampai Masa Proklamasi (2011) karya Junaedi Al Anshori, BPUPKI juga disebut Dokuritsu Junbi Cosakai atau yang tanggal berdirinya bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito.

BPUPKI beranggotakan 67 orang di mana 60 orang Indonesia dan tujuh orang Jepang yang bertugas mengawasi.

Diketuai oleh Radjiman Wedyodiningrat dan wakil ketua Hibangase Yosio (Jepang) serta Soeroso.

Kebijakan Pemerintah Jepang membentuk BPUPKI bukan tanpa alasan. Jepang ingin mempertahankan sisa-sisa kekuatannya dengan memikat hati rakyat Indonesia dan tentunya untuk melakukan politik kolonial.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved