Kriteria Ulama dalam Kehidupan Kekinian : Perlukah?

Sejak beberapa tahun belakangan ini, kata “ulama” menjadi kata yang sering muncul da­­lam wacana komunikasi masyarakat kita.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Muhammad Noupal 

Dibandingkan de­ngan ulama dan ustadz, apabila sang kiayi berceramah, dipastikan yang datang pasti se­u­muran dengan mereka.

Empat puluh tahun ke-atas.

Tapi kalau yang berceramah itu man­tan artis ngustadz, so pasti masjid dan lapangan menjadi penuh.

Sekalipun isi ce­ra­mahnya gak mutu.

Lebih banyak bunyi saja; “takbir”.

Fenomena inilah yang mewabah lapangan dakwah Islam negeri kita.

Banyaknya us­tadz selebritis; ulama yang suka ngomong kotor dan sok ngerti politik; membuat isi dakwah tidak lagi mengajak tapi mengejek.

Akibatnya, pemahaman keagamaan ma­sya­rakat kita men­jadi semakin berkurang.

Bukan saja fikih ibadah, fikih rumah tang­ga juga masih ku­rang dipelajari.

Kriteria Ulama

Kriteria ulama karena itu menjadi sangat perlu.

Bukan untuk membatasi fenomena so­siologis, tetapi justru menjadi ukuran kredibilitas mereka.

Dalam Al quran sendiri kri­teria itu diungkapkan sangat jelas.

“Sesungguhnya yang takut (yakhsya) kepada Allah di antara hamba-hambanya adalah ulama”.

Karena itu kita bisa menjadikan si­kap takut ke­pada Allah itu sebagai kriteria ulama yang sesuai dengan Al quran.

Al quran menggunakan kata yakhsya sebagai arti dari rasa takut para ulama yang le­bih besar.

Singkatnya, mereka “lebih takut” dari pada orang lain.

Dalam tafsirnya, ra­sa ta­kut para ulama tersebut muncul karena pengetahuan yang sudah mereka miliki.

Se­derhananya, kita bisa mengatakan begini; para ulama itu sudah tahu siapa

Allah dan ka­re­na itulah mereka menjadi lebih takut.

Dibandingkan orang awam yang ku­rang berilmu, maka wajar saja kalau mereka kurang patuh kepada Allah.

Kalau kita ka­itkan de­ngan kriteria ulama, maka narasinya menjadi begini; “ulama sejati adalah u­lama yang dengan ilmu yang mereka miliki mumpuni, justru membuat mereka men­jadi lebih ta­kut kepada Allah.

Karena rasa takut kepada Allah menjadi kriteria pokok ulama, maka kita juga bisa me­milah siapa saja yang masuk kriteria ulama sejati.

Tentu saja ini bisa kita ukur me­lalui pe­rilaku atau akhlak Nabi Muhammad SAW.

Bagi Nabi, orang yang baik adalah yang ber­kata jujur; tidak menipu; menghormati hak orang lain; rendah hati; malu ber­buat do­sa; dan lain-lain.

Jika kita kaitkan dengan kriteria ulama; maka ulama sejati a­dalah u­lama yang jiwanya cenderung lebih takut kepada Allah yang kemudian ter­im­plementasi dalam ibadah ritual dan sosial.

Mereka tidak mau berkata bohong, mengumpat, menipu, mengadu domba, sombong dan sebagainya.

Ulama seperti inilah yang disebut Nabi Muhammad SAW laksana bulan purnama di antara bintang-bintang.

Cahayanya lebih bersinar; bahkan mampu menjadi penerang ge­­lapnya malam.

Dalam pepatah kita, mereka laksana tanaman padi yang semakin ber­isi semakin tunduk.

Ibarat sufi, ma’rifatullah membuat mereka semakin takut untuk ber­buat dosa.

Menjadikan “sikap takut” kepada Allah sebagai ciri ulama adalah pilihan tepat dari Al quran itu sendiri.

Al quran tidak melihat kredibilitas ulama dari penampilan; bergamis, to­ngkat, jenggot panjang atau jidat hitam.

Tidak juga dari gelar akademik kam­pus atau rumah tahfiz.

Ulama adalah mereka yang beribadah dan berakhlak seperti Nabi; se­kalipun bukan keturunan Nabi.

Ada baiknya kita bisa melihat lebih seksama siapa ulama sejati di sekitar kita.

Tidak a­da beda; apakah ia dari keturunan ningrat atau cuma rakyat; kiayi haji atau cuma gu­ru ngaji.

Ulama sejati kita adalah ulama yang ilmunya memberi maslahat dan perilakunya dicontoh umat; tidak memfitnah apalagi menyebarnya; tidak terlibat politik kotor a­pa­lagi menjadi bagiannya.

Ulama hakiki inilah yang menjadikan dirinya sebagai rahmatan lil alamin; pewaris dakwah Nabi Muhammad SAW, bukan selebriti.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved