Kriteria Ulama dalam Kehidupan Kekinian : Perlukah?

Sejak beberapa tahun belakangan ini, kata “ulama” menjadi kata yang sering muncul da­­lam wacana komunikasi masyarakat kita.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. Muhammad Noupal 

Mereka mengisi ceramah dan kultum.

Ada yang ce­ra­mah tapi teriak-teriak; ada yang menghibur bahkan sangat lucu; ada juga yang blak-blakan malah cenderung kasar.

Akibatnya. masyarakat sendiri yang membuat kriteria ulama.

Ada ulama politik; u­la­ma qosidahan; ulama infak; ulama mati; ulama lucu; dan lain-lain.

Seabrek kriteria ini mun­cul karena karakteristik ulama itu sendiri yang dilihat masyarakat.

Dengan kata la­in, kriteria ulama itu ada walaupun kita boleh saja tidak sepakat.

Ulama, Ustadz dan Kiayi

Secara sosiologis, istilah ulama dan ustadz jauh lebih berkualitas daripada istilah ki­ayi.

Tidak ada perkumpulan kiayi; yang ada perkumpulan ulama.

Tidak ada kiayi ga­ul; tapi a­da ustadz gaul.

Tidak ada majelis kiayi, yang ada majelis ulama.

Istilah kiayi malah sering menjadi bahan obrolan kita yang tidak berbobot.

Sering kita sendiri bercanda memanggil kawan kita dengan sebutan “kiayi”, hanya karena dia me­ma­kai kopiah putih di kepalanya dengan baju gamisnya.

Sekalipun ada juga unsur spi­ritual dalam sebutan ini, kita cenderung melihat kiayi hanya sebutan kuno.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved