Wawancara Eksklusif

Cerita Agen Detektif Bongkar Kasus di Indonesia, Paling Banyak Selingkuh: Artis Hingga Pejabat

Mayoritas, lebih banyak kasus perselingkuhan. Yang terakhir perselingkuhan. Lebih banyak memang di Indonesia kebutuhannya.

Editor: Soegeng Haryadi
ISTIMEWA
Ilustrasi 

Bagaimana mencari orang hilang?
Ada yang dia menipu. Ada yang sudah lapor ke pihak berwajib, tapi penanganannya double. Walaupun sudah lapor ke pihak berwajib. Ada juga memang kabur masalah keluarga.
Pertama deg-degan pasti. Tapi sekarang sudah enjoy. Satu kasus itu ada tim. Biasa kalau saya jalani sih, per tim itu empat orang. Tergantung tingkat kesulitan. Kalau pencarian orang biasanya lebih banyak agen di lapangan.
Pencarian orang bisa belasan atau puluhan. Semakin nyari orang, petunjuk sedikit, data-datanya misal sedikit, selebihnya kita harus kreatif.

Anda kesulitan mengatur waktu privacy?
Saya sendiri sih tidak ya. Kalau kita agen yang dipercaya, jam berapapun kita siap. Tidak boleh tidak. Saya tetap pulang, tapi selama case. Kalau jaraknya dekat, saya tetap pulang. Tapi kalau jaraknya luar negeri tidak mungkin bolak-balik ya.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Anda pernah menyamar jadi laki-laki?
Kalau jadi laki-laki tidak. Karena sudah ada agen laki-laki. Tetap perempuan tapi berbagai fashion berubah-ubah. Kalau rambut itu pasti. Entah cat atau dipotong. Atau bisa pakai jilbab. Tergantung dari kebutuhan di lapangan.

Fee-nya berapa?
Per kasus. Untuk kasus selingkuh beragam. Tidak bisa dipatok semua sama. Tapi sejauh ini baik.

Untuk range berapa harganya?
Range-nya dua digit. Miss Angel yang menentukan. Kalau saya dapat case, nanti Miss Angel menginfokan berapa dapatnya. Saya tidak tahu karena tidak ada interaksi dengan client-nya.

Ada merasa bersalah ketika mengungkap kasus?
Itu profesional. Kita diminta untuk profesional. Ketika kita menjalankan kasus, sesuai data yang valid. Bukan berarti dingin. Tapi itu memang sudah tugasnya.

Dari kalangan yang sudah berumur apa masih muda?
Beragam ya, relatif. Mungkin yang saya tangani biasanya yang sudah berumur. Kalau muda tidak terlalu banyak. Itu kalau yang saya tangani. Untuk case-nya bisa expatriat, tionghoa, artis, macem-macem.

Pernah bertemu target dalam kehidupan sehari-hari?
Pernah. Cuma orang itu tidak terlalu detail memperhatikan. Hanya sepintas saja. Tapi kan pura-pura saja. Memang tidak lagi investigasi. Deg-degan sih engga. Pernah di jalan rest area di luar kota. Dia sama anak-anaknya. Padahal dulu pasangan pernah selingkuh. Oh ternyata mereka tidak bubar.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Berinteraksi langsung dengan target?
Biasanya untuk pencarian. Kita harus bertemu untuk memastikan secara fisik kalau orang itu berada di situ.

Apa pengalaman terburuk?
Ketika miss atau gagal. Contohnya, saya merasa terburuk itu ketika loss dalam pantauan. Itu pengalaman terburuk. Bukan tidak ada bukti. Kalau kasus pejabat pasti ada.

Kalau pandemi ini meningkat?
Masih normal-normal saja. Bisa jadi meningkat. Kalau pengalaman saya sendiri dapat case-nya. Dibilang menurun atau naik, sama saja. Karena mungkin agennya tidak cuma saya saja.

Pernah mengalami dilematis, ternyata target dalam kasus perselingkuhan Anda kenal?
Pernah. Kenal saya tidak sangka saja terima case-nya yang kenal saya dekat. Karena mengenal saya, jadi otomatis saya kasih info ke Miss Angel. Sebaik apapun saya menutupi, karena mengenal saya cukup baik. Jadi saya oper ke agen lain. Secara logikanya seperti itu. Daripada gagal karena tidak ngomong.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved