Breaking News:

Butimbang Pengantin di Kalangan Masyarakat Adat OKU

Timbangannya ditaruh di sebuah gardu yang beratapkan kain sebagi yang berhiaskan buah bodi/sarang tawon, ini pertanda melambangkan kerukunan kesuburan

Editor: aminuddin
ist
Butimbang pengantin di kalangan masyarakat adat OKU 

SRIPOKU.COM, OKU - BUTIMBANG adalah adat untuk menimbang pengantin, merupakan perlambang keadilan. 

Butimbang (melakukan penimbangan terhadap kedua mempelai dengan menggunakan alat timbangan, kepala kerbau dan buah bodi/ sarang tawon)  yang sudah dihiasi.

Timbangannya ditaruh di sebuah gardu yang beratapkan kain sebagi yang berhiaskan buah bodi/sarang tawon, melambangkan kerukunan kesuburan.

Sedangkan makna religiusnya adalah mengembalikan keseimbangan keluarga pihak wanita, kata Ketua Dewan Pembina Adat Sumsel, Albar Sentosa Subari.

Di sampingnya, kata Albar, ditaburi beras kunyit terlebih dahulu, di sebelah timbangan diletakkan kepala kerbau yang sudah dipotong (dibersihkan) dan sebuah Bokor (tempat uang logam). 

Setiap kali menimbang dilakukan Manting (melempar) uang logam ke dalam bokor.

Pelemparan uang tersebut dilakukan oleh keluarga terdekat yang disebutkan nama nya saat pelemparan, sehingga terjadi perlombaan untuk saling melebihi dalam memberikan bantuan.

"Namun setelah adanya uang kertas, acara Manting diserahkan secara simbolis saja," jelas Albar.

Selesai Butimbang, ibunda dan sesepuh wanita dari keluarga pengantin pria telah siap di tangga dan di ambang pintu untuk menyambut mempelai  wanita.

Kedua mempelai diiringi kedua orang tua mempelai wanita dan ayahanda mempelai pria, menuju tangga rumah. 

Sambil ditaburi beras kunyit, tanda syukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan dua keluarga besar, beras lambang kemakmuran tanda kebersamaan. (aminuddin/*)

 

 
 

 
 

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved