Ikon Sumatra Selatan dan Gerbang Jalur Rempah Nusantara

Sepenggal syair lagu Kapal Api sengaja dipinjam guna mengawali tulisan ini, dan maknanya kurang-lebih mempresentasikan suasana dinamis  masyarakatnya

Editor: aminuddin
youtube
Budayawan Palembang Erwan Suryanegara 

Candi itu diresmikan oleh Raja Samaratungga disertai puteri mahkotanya Pramodawardhani (yang  kemudian dipersunting menjadi isteri oleh Raja Rakai Pikatan dari Medang Kamulan), sebagai bangunan tempat menyimpan perbuan Raja Indra.

Pahatan relief kapal pada candi Borobudur sangat relevan menjadi sumber ide kreatif  untuk ikon Sumatra Selatan, karena secara epistemologis mencirikan kekhasan Sriwijaya. 

Di sisi lain konsep desain arsitektur candi Borobudur juga mencirikan ajaran Budha  Mahayana yang dianut Sriwijaya dan diajarkan oleh Acharya (Mahabhiksu) Dharmakirti, yaitu Delapan Dharma (The Wheel of Sharp Weapon). 

Candi Borobudur tersusun dari bangunan stupa beralaskan segi delapan (heksagonal)  yang secara semiotik menyiratkan “hidup berlandaskan pada Delapan Dharma”.

Sriwijaya yang pernah digdaya, menghegemoni sebagian permukaan dunia itu sudah lama  dibiarkan terselimuti kabut dan “terabaikan” oleh negara bangsa Indonesia hinggsa hari ini.

Kini telah saatnya diangkat ke permukaan kembali,sebagaimana para ahli dulu  mewacanakannya.

Sekarang tentu wacana itu harus diimplementasikan, hingga dapat  dirasakan masyarakat bahkan dunia maanfaat ke-Sriwijaya-an itu.

IKON SUMATRA SELATAN dan GERBANG JALUR REMPAH NUSANTARA
Oleh: Dr. A. Erwan Suryanegara, M.Sn. 
Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau 

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved