Breaking News:

Ikon Sumatra Selatan dan Gerbang Jalur Rempah Nusantara

Sepenggal syair lagu Kapal Api sengaja dipinjam guna mengawali tulisan ini, dan maknanya kurang-lebih mempresentasikan suasana dinamis  masyarakatnya

Editor: aminuddin
youtube
Budayawan Palembang Erwan Suryanegara 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - “…Kapal api masuk Palembang, airnya tenang jadi gelombang, oi mak mano ati dak 
senang, gadis belagak siap dipinang…”

Sepenggal syair lagu Kapal Api sengaja dipinjam guna mengawali tulisan ini, maknanya kurang-lebih mempresentasikan suasana dinamis  masyarakatnya.

Sejarah panjang peradaban di Sumatra Selatan sudah tercatat baik dalam Sejarah Nasional Indonesia, bahkan Sriwijaya telah menjadi fenomenal dalam wacana sejarah dunia. 

Tradisi Megalitik Pasemah telah pula menjadi kajian ilmiah para arkeolog dan sejak era Van der Hoop (1930-1931), diakui sebagai salah-satu tinggalan era Megalitikum khas Nusantara.

Megalitik Pasemah pun Sriwijaya merupakan dua “cagak” yang menjadi tonggak  monumental bagi Sumatra Selatan, sehingga memiliki potensi kultural yang khas  dibanding wilayah lainnya di Indonesia, sejak masa lalu hingga masa kini dan ke depan. 

Patung-patung megalit Pasemah tidak terbantahkan, merupakan karya rupa terbaik pada  masanya dalam ranah dunia. Sriwijaya terpahatkan dengan tinta emas sebagai  negara/kerajaan/Kedatuan terpanjang rentang kekuasaannya dan berpangaruh hingga ke manca negara.

Khusus Sriwijaya, berawal dengan ditemukannya prasasti Kota Kapur pada bulan Desember 1892 oleh J.K. van der Meulen di dekat Sungai Mendo, Kota Kapur, Kabupaten Bangka Barat, berisikan teks berbahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa Sriwijaya, di antaranya bermakna lebih-kurang: “…pelayaran Sriwijaya guna 
menghukum bumi Jawa yang tidak patuh...”

Tentu pelayaran itu menggunakan kapal  laut, menghukum karena tidak patuh juga bermakna bahwa Jawa merupakan bagian wilayah kekuasaan Sriwijaya.

Pada penanggalan prasasti tertua peninggalan Sriwijaya yang sudah ditemukan, yakni  Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 604 Saka atau 682 M, pada parasasti itu juga  terpahatkan teks berbahasa Melayu Kuno dengan huruf Pallawa Sriwijaya, di  antaranya: “…Dapunta Hyang berlayar dari Minanga Tamwam menuju Mukha 
Upang…”

Berdasar prasasti itu jelas Sriwijaya mengunakan kapal laut karena  berlayar, selain itu bersama bala tantara membangun Wanua, artinya sebagai negara  maritim memang memiliki pasukan dan wanua dapat diartikan istana.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved