Adat Perkawinan Ambik Anak Di Tanah Kisam

Bentuk kedua dari cara melangsungkan hubungan perkawinan dalam masyarakat Tanah Kisam adalah Perkawinan Ambik Anak. Yakni kawin tanpa pembayaran jujur

Editor: aminuddin

Dasar perkawinan Ambik Anak ini sebagai jalan keluar untuk memenuhi kepentingan anggota masyarakat yang tidak dapat melakukan perkawinan jujur, baik kepentingan pihak laki laki maupun perempuan. 

Dampak dari perkembangan di masyarakat tersebut, perkawinan Ambik Anak mengalami perkembangan sehingga mendesak perkawinan jujur. 

Seseorang laki laki yang berkawin ambik anak tidak mendapatkan hak waris baik berupa warisan materiel mampu non materiil, demikian juga dari harta kerabat isterinya karena yang menjadi garis pe nghubung menurut garis patrilineal itu adalah isteri nya. 

Sebab sebab terjadinya perkawinan Ambik anak antara lain:

1. Dalam satu keluarga yang hanya mempunyai anak tunggal perempuan. Maka anak tunggal ini tidak dapat berkawin menurut sistem Kule Berete (kawin jujur), karena akan mengakibatkan terputusnya hubungan keanggotaan sumbai dari wanita tersebut. 

2. Suatu keluarga yang hanya mempunyai anak perempuan semua, maka anak yang paling tua adalah wajib dikawin kan dalam perkawinan Ambil Anak. Dia lah yang mempunyai kewajiban meneruskan jurai dari ayahnya sebagai ahli waris. Anaknya nanti laki laki sebagai penerus jurai. 

3. Bisa juga terjadi bila anak tertua perempuan dan seterusnya perempuan, tetapi yang kecil ada laki laki (disebut Apit Jurai), anak perempuan tertua tadi dikawinkan dengan sistem Ambik Anak. Dan bertanggung jawab sampai adik nya yang laki laki tadi dewasa dan sudah juga kawin.

Dari sisi laki laki perkawinan ambil anak bisa juga karena misalnya yang bersangkutan tidak sanggup melakukan perkawinan jujur karena ketiadaan ekonomi, misal hidup sebatang kara.

Faktor lain yang berpengaruh juga atas perkembangan perubahan dari sistem exogam (ambil istri di luar clan) ka win sistem endogam (kawin se clan).  Disebabkan oleh faktor perkembangan masyarakat yang sudah mengenal dunia luar dampak globalisasi. 

Hal di atas secara teori sudah disinyalir oleh Prof. Dr. Hazairin, SH Guru besar Hukum Adat dan Hukum Islam Universitas Indonesia bahwa sistem perkawinan maupun sistem kekerabatan di Indonesia akan bergeser dari sistem Unilateral (matrilineal dan patrilineal ) ke sistem Bilateral. 

Dan memang kenyataan nya dewasa ini sudah banyak terjadi perkawinan antar suku, budaya dan lain lain. Hanya yang penting dijaga adalah seiman.

Adat Perkawinan Ambik Anak Di Tanah Kisam

Oleh Albar Sentosa

Subari

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved