Breaking News:

Adat Perkawinan Ambik Anak Di Tanah Kisam

Bentuk kedua dari cara melangsungkan hubungan perkawinan dalam masyarakat Tanah Kisam adalah Perkawinan Ambik Anak. Yakni kawin tanpa pembayaran jujur

Editor: aminuddin

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - PROF. Bushar Muhammad  dalam bukunya Pengantar Hukum Adat mengatakan barangsiapa hendak mengerti inti berbagai lembaga hukum yang ada dalam suatu masyarakat, seperti lembaga hukum perkawinan, lembaga hukum waris,....  harus mengetahui struktur  masyarakat yang bersangkutan.

Dalam tulisan ini penulis akan mengurai kan tentang Perkawinan Ambik Anak di Tanah Kisam. 

Secara administratif Tanah Kisam  dimasukkan dalam Kabupaten Ogan dan Kumoring Ulu (Kabupaten induk dan sekarang sudah dipecah menjadi Ogan Kumoring Ulu Selatan), dengan masyarakat nya terdiri dari Masyarakat Daya, Masyarakat Ogan Ulu dan Masyarakat Semendo. 

Penduduk Tanah Kisam adalah keturunan dari penduduk Tanah Pasemah (adanya nulisnya Besemah). 

Dahulu penduduk Pasemah berclan-clan. 

Untuk mudahnya mereka membeda bedakan kerabat kerabat dalam satu marga atas beberapa Sumbai (Sub-clan).

Sumbai itu terdiri dari pertama Sumbai Besak, artinya clan terbesar dan memang jumlah orangnya terbanyak diantara keempat Sumbai yang ada.

Kedua Ulu Lurah, Ketiga Mangu Anom dan keempat Tanjung Khaye. 

Di dalam bentuk perkawinan nya Tanah Kisam menganut sistem perkawinan jujur, menurut bahasa Kisam disebut Kule Berete.

Kule artinya hubungan perbesanan. Rete artinya harta. Berete artinya dengan pembayaran harta yaitu jujur. Kule berete mempunyai tingkatan pula yaitu Kule Besak Biasa, Kedua Kule Menengah dan ketiga Kule kecik. 

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved