Breaking News:

Berita Religi

Tata Cara dan Adab Sembelih Hewan Kurban di Masa Pandemi Sesuai Sunnah, Awas No 3 Bisa Haram Dimakan

Selain memilih hewan kurban yang sehat, proses penyembelihan hewan kurban juga merupakan hal yang sangat penting.

Penulis: Tria Agustina | Editor: Welly Hadinata
Humas Polda Sumsel
Tata cara menyembelih hewan kurban 

SRIPOKU.COM - Bagaimana cara menyembelih hewan kurban di tengah pandemi? Begini tata cara yang tepat.

Tinggal menghitung hari, umat Islam akan memperingati Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriyah.

Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban ini dilaksanakan satu tahun sekali.

Dinamakan Hari Raya Kurban lantaran di hari itu dilakukan penyembelihan hewan kurban.

Berkurban wajib hukumnya bagi yang mampu.

Pada momen Idul Adha ini, umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan terutama berkurban.

Hewan yang diperbolehkan untuk dikurbankan yakni sapi, domba, unta dan kambing.

Hewan yang dikurbankan juga harus sehat dan tidak cacat.

Selain daripada itu, proses penyembelihan hewan kurban juga merupakan hal yang sangat penting.

Apalagi di masa pandemi seperti ini, perlu diperhatikan tata cara penyenbelihan hewan agar dagingnya tetap aman dan bebas dari penyakit.

Kemudian yang juga penting untuk diperhatikan yakni cara menyembelih hewan agar dagingnya berkah.

Hal ini lantaran jika saja salah dalam penyembelihannya, maka dagingnya bisa-bisa menjafi haram untuk dimakan.

Jadi, jangan asal sembelih ya, simak tata cara penyembelihan hewan kurban yang tepat berikut ini.

Cara Penyembelihan Hewan Kurbandi Masa Pandemi

Berikut tata cara penyenbelihan hewan kurban di masa pandemi Dikutip dari Panduan Praktis Kurban di Masa Pandemi Yang diterbitkan oleh Bidang Pemberdayaan Masyarakat (IKALUIN Care) Ikatan Alumni UIN (IKALUIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2021 yang ditulis oleh : H Rakhmad Zailani Kiki danK Muzbi Wuzdi.

Tata cara penyembelihan hewan menurut syariat Islam di masa pandemi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

Pertama, orang yang menyembelih harus beragama Islam, dewasa
(baligh) dan berakal sehat, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh
karena itu, jika penyembelihnya tidak beragama Islam (kafir/musyrik/murtad/munafiq), masih kanak-kanak, sedang mabuk atau gila, maka penyembelihannya dinilai tidak sah
sehingga dagingnya pun haram dimakan.

Kedua, memakai perlengkapan sesuai protokol kesehatan di masa pandemi (menggunakan topi yang menutup semua rambut, masker yang menutup mulut dan lubang hidung, penutup wajah transparan atu face shield, sarung tangan karet sampai menutup siku,
dan sepatu boots yang menutupi celana) untuk keselamatan jiwa.

Ketiga, ketika akan menyembelih. hewan yang hendak disembelih dihadapkan ke kiblat pada posisi tempat organ yang akan disembelih
(lehernya) bukan wajahnya. Karena itulah arah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Maka, cara yang tepat untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat ketika menyembelih adalah dengan memosisikan
kepala di Selatan, kaki di Barat, dan leher menghadap ke Barat.

Dan saat menyembelih harus membaca basmalah.

Keempat, alat penyembelihannya harus tajam; dan kelimah harus disembelih di lehernya dengan memutuskan saluran
pernafasan (trachea/hulqum), saluran makanan (oesophagus/ marik), dan dua urat leher (wadajain)-nya.

Sedangkan hewan yang tidakd disembelih di lehernya karena liar atau jatuh ke dalam
lubang, maka penyembelihannya dapat dilakukan di mana saja dari badannya asal dapat mati karena luka tersebut.

Memutuskan saluran pernafasan, saluranm dandua urat leher harus menjadi perhatian serius.

Dikarenakan sering terjadi kasus hayyat
mustaqirrah setelah penyembelihan.

Hayyat mustaqirrah adalahh yang sudah disembelih masih bergerak melebihi gerak hewan sembelihan biasa karena masih ada kehidupan yang utuh.

Konsekuensinya jika hewan itu mati kehabisan darah, tercekik, atau sebab lainnya yang bukan sembelihan maka daging dari hewan itu haram untuk dimakan karena dihukumi sebagai bangkai.

Bagi orang awam, pada beberapa kasus hayyat mustaqirrah setelah penyembelihan susah untuk dikenali.

Hewan yang bergerak-gerak setelah pemotongan dianggap sesuatu yang biasa saja, padahal mungkin hewan tersebut termasuk hayyat mustaqirrah.

Di samping tata cara di atas, seseorang yang akan menyembelihan hewan kurban disunnahkan memperhatikan tata krama atau
adab penyembelihan sebagai berikut:

Pertama, hewan yang akand  sunnah dihadapkan ke arah qiblat; kedua, hewan yang
akan disembelih, sunnah digulingkan ke sebelah rusuknya yang kiri agar mudah disembelih; ketiga, hewan yang panjang lehernya, hendaknya disembelih di pangkal lehernya dengan memotong
dua urat yang ada di sebelah kiri dan kanan lehernya.

Dengan demikian, diharapkan dapat mempercepat kematiannya; keempat,
orang yang akan menyembelih, disunnahkan membaca shalawatk Rasulullah SAW dan membaca takbir sebanyak tiga kali,
di samping membaca basmalah; kelima, orang yang menyembelih ternak, disunnahkan menjaga kebersihan sehingga tidak mencemari lingkungan.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved