Pengorbanan Nabi Ismail As

“Nilai Pendidikan dalam Pengorbanan Nabi Ismail As”

Tidak sampai hitungan 5 (lima) hari lagi kita akan berjumpa dengan Hari Raya Idul Adha/­Idul Qurban 1442 H. 

Editor: Salman Rasyidin
“Nilai Pendidikan dalam Pengorbanan  Nabi Ismail As”
ist
Dra. Hj. Sumiati, M.Pd.I

Orang tua dalam hal ini berperan sebagai penyaji in­­formasi, pemberi contoh dan teladan, sedangkan anak menerima informasi dan merespon simulasi orang tua secara fisik biologis, kemudian memindahkan dan mempolakan pri­ba­di­nya untuk menerima nilai-nilai kebenaran sesuai dengan kepribadian orang tua.

Sekarang ini baru disadari, betapa pentingnya pendidikan nilai, karena kecerdasan inte­lek­tual saja tidak cukup untuk memanusiakan manusia seutuhnya.

Kecerdasan intelektual yang ti­dak disertai dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual akan menjadikan ma­nu­sia terpuruk, tidak peduli, dan tidak memiliki nilai kemanusiaan yang sebenarnya.

Untuk itu Allah telah menjelaskan dalam firmannya QS AL- A’rof ayat 179 yang artinya :179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan ma­nu­sia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tan­da kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya un­tuk mendengar (ayat-ayat Allah).

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.

Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Dari uraian di atas dapat kita ambil suatu pelajaran bahwa : Pendidikan nilai yang dilakukan Nabi Ibrahim As terhadap putranya Nabi Ismail As adalah pendidikan nilai dengan meng­gu­nakan strategi transinternal yang mengintegrasikan tiga ranah pendidikan ( kognitif, psi­ko­mo­torik dan afektif).

Model pendidikan nilai ini mengantarkan Nabi Ismail As dengan suka rela bersedia mengurbankan dirinya demi memenuhi perintah Allah melalui orang tuanya.

A­dalah sudah sewajarnya bagi kita orang tua mencontoh pendidikan yang dilakukan Nabi Ib­rahim As terhadap anaknya Ismail AS, karena anak merupakan investasi bagi kita, negara dan bangsa di masa yang akan datang.

Pendidikan karakter bangsa yang tengah mengemuka belakangan ini pada hakikatnya adalah pendidikan nilai (afeksi).

Persoalan budaya dan karakter bangsa sekarang menjadi sorotan ma­syarakat.

Sorotan ini menyangkut berbagai aspek kehidupan, sehingga para pengamat pen­­didikan serta pengamat sosial berbicara mengenai persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum seminar baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, manipulasi, kekerasan, kejahatan sek­sual, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, perkelahian pelajar dan la­in-lain yang semakin meningkat belakangan ini ditengarai disebabkan oleh pendidikan, yang hanya menitik beratkan pada ranah kognitif saja, sedangkan ranah afektif dan psi­ko­mo­torik dikesampingkan.

Padahal ketiga ranah itu merupakan satu kesatuan yang dibutuhkan untuk mem­proses manusia menjadi baik atau insan kamil (Sholih), dengan kata lain selama pen­di­dik­an tidak mengacu kepada tiga ranah tersebut secara integral dan seimbang, maka selama itu pula pendidikan akan mengalami kegagalan.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved