Pengorbanan Nabi Ismail As

“Nilai Pendidikan dalam Pengorbanan Nabi Ismail As”

Tidak sampai hitungan 5 (lima) hari lagi kita akan berjumpa dengan Hari Raya Idul Adha/­Idul Qurban 1442 H. 

Editor: Salman Rasyidin
“Nilai Pendidikan dalam Pengorbanan  Nabi Ismail As”
ist
Dra. Hj. Sumiati, M.Pd.I

Di­a­log antara dua anak manusia itu menimbulkan rasa haru dan sendu.

Nabi Ibrahim As selaku a­yah dengan penuh ketulusan bersedia mengurbankan putera kesayangan satu-satunya.

Se­mentara Nabi Ismail As selaku anak dengan kepatuhan dan keikhlasannya bersedia untuk di­sembelih demi terlaksananya perintah Allah kepada ayahnya.

Nabi Ibrahim As telah mem­buk­­tikan dirinya yang mantap dalam beriman dan tegas serta sabar.

Sehingga Allah me­limpahkan anugerah kesejahteraan dan menyelamatkan predikat kehormatan sebagai imam se­­panjang masa.

Dari firman Allah SWT di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa, selain mengandung nilai pe­ngorbanan, juga mengandung nilai pendidikan yang sangat berharga bagi kehidupan um­mat Islam khususnya.

Seperti dapat kita perhatikan ungkapan Nabi Ibrahim As “Cobalah a­nak­ku, bagaimana menurut pendapatmu?.

Pertanyaaan itu secara spontan direspon oleh a­nak­nya Nabi Ismail As dengan ungkapan : “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang di­pe­rin­tahkan Allah kepadamu, dan insya ‘ Allah ayah akan menjumpai aku termasuk orang yang sabar”.

Ungkapan spontan yang disampaikan oleh Ismail As itu ditinjau dari segi pendidikan me­nun­jukkan bahwa Nabi Ismail As memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual dan ke­cerdasan emosi-onal yang luar biasa.

Kepatuhan, ketundukan serta keikhlasan Nabi Ismail As yang telah bersedia mem-persembahkan dirinya untuk rela disembelih demi terlak­sa­na­nya perintah Allah atas diri ayahnya tersebut, merupakan lambang ketinggian keimanan seseorang dalam rangka mencari ridho Allah SWT.

Dalam strategi pendidikan (Menurut Noeng Muhajir ) nilai ada empat model, yaitu tra­di­si­onal, bebas, reflektif, dan transinternal.

Model strategi pendidkan nilai yang dipilih Nabi Ib­ra­­him As adalah model transinternal.

Strategi ini merupakan cara untuk melakukan pe­mindahan nilai, kemudian transaksi, dan selanjutnya transinternalisasi.

Implementasinya a­da­­lah, anak dan orang tua terlibat dalam proses komunikasi aktif dan adanya komunikasi bathin, tidak bersifat verbalistik dan fisik.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved