Breaking News:

Berita Muba Babel United

Manajer Muba Babel United Desak PSSI & PT LIB Terbitkan Surat Edaran Kepastian Gaji Pemain Sepakbola

kerugian yang dialami Tim Muba Babel United (MBU) ditaksir dapat mencapai Rp 2 miliar lebih mengingat biaya untuk akomodasi dan konsumsi tetap jalan.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
MEDIA OFFICER MUBA BABEL UNITED
Manajer Tim Muba Babel United, Achmad Haris 

Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Achmad Haris Manajer Muba Babel United mendesak agar PSSI selaku Federasi sepakbola tanah air dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi Liga segera menerbitkan surat edaran kepastian gaji pemain sepak bola. 

"Sekarang PSSI atau PT LIB harus segera kasih kepastian soal masalah gaji pemain. Buat surat edaran berapa persen gaji. Harus seragam," ungkap Manajer Tim MBU, Achmad Haris

Kembali tertundanya kompetisi Liga 2 Indonesia mendapat sorotan dari manajemen Muba Babel United (MBU). Klub kebanggaan masyarakat Musi Banyuasin ini menyebut kembali ditundanya pelaksanan kompetisi Liga 2 Indonesia 2021 menimbulkan efek bola salju.

"Kalau bicara kerugian tentu MBU juga mengalaminya, karena kamu sudah melakukan persiapan cukup lama. Dengan penundaan ini tentu manajemen harus kembali menyusun ulang program dan durasi kontrak di seluruh aspek akan mengalami penambahan waktu," kata Haris. 

Menurutnya, selain dari persiapan tim dan durasi kontrak yang membengkak, pihaknya kini juga mengalami kesulitan untuk kembali meyakinkan para sponsor yang akan membantu tim MBU kedepannya. 

"Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama ada 2 pengumuman yang kami terima. Pertama bahwasanya Liga 2 hanya diundur sebulan dan bergulir di awal Agustus," ujar Haris.

"Lalu baru kemarin juga sudah dirilis secara resmi bahwa kembali diundur ke awal September. Tentu hal ini berdampak pada sponsor yang sangat membutuhkan kepastian kick off kompetisi guna pencairan dananya," bebernya.

Diakuinya, kerugian yang dialami Tim Muba Babel United (MBU) ditaksir dapat mencapai Rp 2 miliar lebih mengingat biaya untuk akomodasi dan konsumsi tetap berjalan seperti biasanya. 

"Cathering, penginapan tentu tidak bisa distop dan sebenarnya sudah kita perhitungkan sejak awal. Tetapi kini mau tidak mau ada penambahan waktu, kerugian bisa berkisar 2 Miliar lebih," terangnya.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved