Breaking News:

Berita Banyuasin

Si Betina Bisa Mati Diserang Pejantan, Penjualan Burung Murai Batu Sepi, Anakan Dibandrol Rp1,5 Juta

Dampak pandemi corona memang sangat luar biasa biasa terhadap ekonomi, bahkan sampai dirasakan pembudidaya burung murai batu

Editor: Welly Hadinata
Tribunsumsel/Ardiansyah
Gatot menunjukan anakan burung murai batu yang berhasil dikembangbiakkannya, Jumat (9/7/2021) 

SRIPOKU.COM, BANYUASIN - Dampak pandemi corona memang sangat luar biasa biasa terhadap ekonomi, bahkan sampai dirasakan pembudidaya burung murai batu.

Salah satunya yang diungkapkan Gatot warga Jalan Gajah Mada Kelurahan Sukomoro Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin. Sejak Covid19 melanda, penjualan burung murai batu yang dibudidayakannya menjadi sepi.

"Kalau sekarang, karena turnamen atau lomba kicau burung stop, jadi penjualan juga sepi. Sebelum Covid19, saya juga bisa menjual anakan atau remaja burung murai ini seminggu tiga sampai empat ekor," ujarnya ketika ditemui di rumahnya, Jumat (9/7/2021).

Namun, setelah Covid19 melanda, ia hanya bisa terus mengembang biakan burung murai batu di belakang rumahnya. Masih ada yang membeli, namun tidak sebanyak sebelum Covid19 melanda.

Ia menyiasati, memasarkan burung murai batu tangkarannya melalui sosial media. Akan tetapi, respon pembeli juga tidak begitu banyak. Sehingga, ia hanya bisa menunggu bila ada orang yang memesan burung murai batu melalui online.

"Saya sudah menekuni penangkaran ini sejak tiga tahun lalu. Melihat prospek murai batu ini menjanjikan, sehingga awalnya mencoba. Memang, awal-awal untuk memulai pengambangbiakan murai batu ini banyak kendala yang dihadapi. Tetapi lambat laun, saya mengerti trik agar bisa mengembang biakan burung ini," katanya.

Belajar secara otodidak, saat ini Gatot sudah bisa menghasilkan burung murai batu.

Proses yang dibutuhkan juga terbilang cukup lama. Mulai dari penjodohan burung, pengawinan, pengeraman atau penetasan melalui inkubator hingga merawat anakan yang baru menetas.

Sifat burung murai batu yang fighter, menurut Gatot harus menjadi perhatian tersendiri. Alih-alih ingin mengawinkan, bisa-bisa betina burung murai ini  malah mati karena serangan dari pejantan murai.

"Proses penjodohan juga terbilang lumayan lama. Penjantan di dalam sarang, sedangkan betinanya kita lepas di kandang yang besar. Kalau mau, biasanya si betina akan mendekat ke kandang pejantan. Tetapi, bila tidak maka si betina tidak akan mendekat ke kandang si pejantan," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved