Kearifan Qurban

Kearifan Qurban: Sebuah Metode Pemecahan Problematika Sosial

Sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai dan norma.

Editor: Salman Rasyidin

Namun yang lebih penting a­da­lah sikap bersemangat dengan penuh kerelaan untuk mengorbankan jiwa, harta serta apa sa­ja demi ketaatan kepada Allah swt dan membela risalah Islam.

Kearifan berqurban dimak­nai mampu mengatasi problematika sosial disebabkan oleh empat hal yaitu:  adanya rasa cin­ta dan kasih sayang.

Tidak akan pernah ada pengorbanan sebagai manifestasi kesetiaan ke­cu­ali didasari oleh perasaan cinta dan kasih sayang.

Nabi Ibrahim sangat mencintai anaknya Is­ma­il, begitupun juga istrinya Siti Hajar.

Tidak terkecuali si kecil Ismail, ia mencintai kedua o­rangtuanya dan secara bersamaan dia pun mencintai dirinya sendiri.

Namun perasaan cinta ketiganya mampu dikalahkan oleh rasa cinta mereka kepada Allah SWT.

Manakala meyakini sebuah perintah berasal dari Sang Maha Cinta maka mereka laksanakan tanpa protes. 

Kedua: ikhlas atau berkorban tanpa pamrih.

Dimaknai sebagai tidak mengedepankan ke­pen­tingan pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama meraih ridha Ilahi.

Pengorbanan tidak di­landasi oleh hawa nafsu semata, tetapi mengutamakan ketaatan kepada-Nya.

Sebagaimana nabi Ibrahim mematuhi perintah Allah swt tidak disebabkan oleh keinginan pribadinya, akan tetapi ketiganya bersepakat bersama-sama meraih keridhaan Allah.

Hal ketiga yang menjadi ba­gian dari kearifan berqurban yang diajarkan oleh keluarga Ibrahim adalah berkorban mes­ki­pun dalam keterbatasan.

Ibrahim dan Siti Hajar menjadi orang tua dari seorang putra satu-sa­tunya yang dimilikinya setelah 86 tahun lamanya berdoa.

Namun ketiganya tetap rela mengikuti dan menjalankan apa yang menjadi perintah Allah SWT meskipun harus mengor­ban­kan putra yang cuma satu-satunya.

Sebagai makhluk sosial, Allah SWT telah membangun sebuah aturan yang berlaku di alam dunia dengan pola kemanusiaan.

Bahwa manusia hanya akan bisa hidup layak dengan cara bersosial.

Diawali dengan menetapkan nilai kesempurnaan iman seseorang yang tidak akan bisa ia capai melainkan dengan cara mencintai sesama muslim sama seperti kecintaan terha­dap dirinya (al-Bukhariy, 13).

Sampai kepada aturan bahwa apabila manusia ingin me­nye­lesaikan masalahnya maka dia harus menerapkan prilaku sosial.

Pada surat al-Taghabun (64) ayat 11 Allah menjelaskan tentang pemberlakuan ujian bagi setiap makhluk di bumi sebagai hu­kum alam.

Menjelaskan pula tentang hakikat problematika sebagai sesuatu yang bersifat pas­ti.

Pasti mendatangi setiap individu, pasti akan terjadi dalam kehidupan di alam dunia, pasti juga dalam perencanaan Allah SWT.

Problematika hidup sebagai sebuah fenomena a­lam yang terjadi secara sistematis, teratur dan berpola sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat dapat dipahami melalui dua pendekatan yaitu secara qauliyah dan kauniyah.

Secara qauliyah pendekatan dilakukan berdasarkan keimanan sehingga manusia mampu untuk menyikapi, me­nerima dan menemukan tujuan dan hikmah di balik sebuah problem.

Adapun secara ka­uni­yah pendekatan dilakukan oleh para ahli atau pemegang otoritas yang memberikan pen­je­lasan dan bukti berdasarkan ilmu pengetahuan tentang apa yang menjadi sebab terjadinya problematika dalam hidup.  

Secara qauliyah ataupun kauniyah, kearifan berqurban sebagai sebuah metode pemecahan pro­blematika sosial dapat dicontohkan dalam prilaku berbagi meskipun dalam kondisi sangat bu­tuh.

Rasulullah menjelaskan bahwa Allah swt akan memberikan keringanan kepada se­se­orang yang suka meringankan beban orang lain yaitu Allah SWT akan membantu me­mu­dah­kan segala urusannya baik di dunia maupun di akhirat (Muslim: 299).

Mampu berbagi dari sudut pandang ekonomi dikategorikan sebagai satu kegiatan berbisnis dengan Allah.

Ru­mus­nya melibatkan Allah maka akan tertolong karena bantuan Allah.

Logika berbagi adalah ber­bis­­nis dengan Allah, membantu “meringankan kerja Allah” se­ba­gai Sang Pemberi Rezeki ke­pada semua mahkluk, terlebih dalam kondisi serba keku­rangan tentu teramat sangat berat un­tuk dilaksanakan.

Selanjutnya Allah tidak akan tinggal diam, bekerja sebagai “Pembisnis Pro­fesional” membantunya dalam kemudahan urusan, baik di dunia maupun di akhirat.

Ke­ber­kahan diberikan Allah SWT atas sikap tolong-menolong dan mendahulukan kepentingan o­rang lain.

Semua manusia yang hidup di alam dunia pastinya akan menemui masalah.

Seperti sebuah per­syaratan jika mau hidup di dunia maka harus siap menghadapi ujian.

Faktanya meskipun problematika memiliki sifat tidak kekal dan silih berganti, namun tidak mudah untuk dapat lo­los dari satu problem, sehingga pada saat dirundung persoalan semua orang akan sangat meng­harapkan datangnya pertolongan dengan segera.

Tidak perduli siapapun atau dari arah ma­napun, kedatangan juru selamat akan sangat diharapkan.

Semakin terasa sulit beban ujian yang dirasakan manakala dalam kondisi yang sama ia harus memikirkan dan meringankan ke­sulitan orang lain.

Meskipun sulit untuk dipahami dalam logika matematika namun meng­a­tasi masalah dengan cara membantu orang lain adalah aturan yang ditetapkan oleh  Allah SWT dalam mengatur jalannya kehidupan makhluk di dunia.

Tidak ada yang salah atau ber­ben­turan dengan teori manapun, semuanya berjalan pada sunnah yang telah ditetapkan.

Se­ba­gai­mana pola interaksi symbiosis mutualisme maka rela berkorban untuk orang lain dapat menjadi solusi untuk penyelesaian problematika sendiri.

Hal tersebut tidak lain disebabkan karena sifat sosial manusia yang membutuhkan orang lain dan dibutuhkan oleh orang lain.   

Kisah tentang seorang sahabat Rasulullah saw bernama Abdurrahman bin Auf.

Ia dipersau­da­rakan oleh Rasul saw dengan Sa’ad bin Rabi pada saat hijrah dari kota Mekkah ke Madinah se­makin memperjelas tentang kearifan berkorban.

Abdurrahman sebagai seorang yang ikut ber­hijrah tentu saja membutuhkan adabtasi dengan lingkungan barunya.

Sa’ad sangat me­mak­­lumi kondisi Abdurrahman tersebut.

Karena rasa persaudaraan yang tinggi, Sa’ad me­nye­dekahkan separuh harta miliknya dan juga meminta Abdurrahman untuk memilih satu di antara dua istrinya, selanjutnya Sa’ad akan menceraikannya untuk diperistri oleh Abdur­rah­man.

Akan tetapi ternyata pribadi Abdurrahman tidak kalah mulia daripada Sa’ad. Ia tidak i­ngin bersikap serakah dan mengambil dua kemuliaan saudaranya.

Abdurrahman hanya me­min­ta untuk ditunjukkan jalan menuju pasar sehingga ia dapat berniaga di sana.

Singkat cerita per­dagangan yang dilakukan Abdurrahman mendapatkan untung besar.

Sebagai rasa syu­kur­nya ia pun membagi hartanya untuk dimanfaatkan secara bersama-sama.

Sepertiga dipin­jam­kan kepada kaum muslimin untuk modal usaha, sepertiga lagi diper­gunakan untuk membayar hutang dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada masyarakat tidak mampu.

Hal ini terus ber­langsung sehingga mentradisi di masyarakat Madinah saat itu.

Akhirnya Madinah bisa menguasai perekonomian yang sebelumnya dipegang oleh kaum Yahudi. Semua masyarakat hi­dup dalam kesejahtraan yang hampir merata.

Meskipun untuk dapat memiliki semangat rela berkorban tidak mudah.

Tidak semudah me­nu­lis dalam satu artikel, tidak pula semudah berbicara di hadapan orang banyak.

Namun semua orang beriman harus sadar bahwa Allah swt tidak akan memasukkan seseorang ke dalam sur­ga-Nya sebelum ia dihadapkan kepada persoalan besar sebagaimana orang-orang terdahulu.

Mereka ditimpa malapetaka, kesengsaraan serta kegoncangan sehingga sampai batas kema­pu­an dan kepasrahannya kepada Allah (Q.S. al-Baqarah (2): 214).

Mengemban prinsip dan meng­­implementasikan teori ke dalam bentuk kerja praktek sangat membutuhkan banyak se­kali pengorbanan.

Tidak ada surga melainkan hanya bagi mereka yang mau berkorban dan ber­kontribusi untuk membela dan menegakkan syariat Islam (Q.S. Muhammad (19): 12).

Na­mun yang tidak kalah pentingnya adalah istiqamah melakukan yang terbaik dalam hidup.

Menjadi hamba yang terbaik di sisi Allah.

Menjadi anak yang terbaik bagi orang tua.

Menjadi o­rangtua yang baik untuk anak dan keturunan.

Menjadi teman terbaik dengan sifat rela berkorban, membantu dan mengutamakan orang lain.   

Sumber: Sriwijaya Post
  • Berita Terkait :#Kearifan Qurban
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved