Kearifan Qurban

Kearifan Qurban: Sebuah Metode Pemecahan Problematika Sosial

Sejak dahulu Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai dan norma.

Editor: Salman Rasyidin

Kemiskinan sebagai sebuah problematika sosial terus berlangsung, ti­dak hanya di satu wilayah tertentu saja namun juga hadir di berbagai belahan dunia.

Bukan ha­nya menjadi pesoalan manusia secara individual tetapi juga merupakan persoalan yang membutuhkan kebijakan negara dan pemerintah yang tidak hanya menghantui kelom­pok ma­sya­rakat berpenghasilan rendah tetapi juga menjadi persoalan di beberapa negara berkembang dan maju.

Meskipun sebuah interaksi dapat menjadi awal mula munculnya suatu masalah so­si­al di masyarakat.

Namun interaksi sosial dengan semangat rela berkorban justru akan men­jadi solusi terbaik untuk dapat memecahkan berbagai problematika sosial, termasuk persoalan ke­miskinan.

Rela berkorban merupakan sebuah prilaku yang menunjukkan kesetiaan dengan cara me­nye­rahkan sesuatu yang dimiliki untuk objek yang dicintai.

Dalam realitas kehidupan dunia tidak se­dikit orang yang rela mengorbankan nyawanya ataupun keluarga yang ia cintai demi men­da­patkan sesuatu yang diinginkan.

Ketika untuk alasan dunia seseorang mampu mengor­ban­kan apapun maka bagi umat beriman tentu terdapat alasan yang lebih kuat lagi untuk ber­kor­ban demi ketaatannya kepada Pencipta-nya.

Keteladanan dalam berkorban sebagaimana di­ceritakan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Shaffat (37) tentang kisah Nabi Ibrahim.

Ma­nakala Ibrahim as meninggalkan kaumnya, kemudian ia berdoa agar diberikan anak ke­tu­runan yang shalih.

Baru setelah 86 tahun menunggu, Allah SWT berkenan mengabulkan per­mo­honannya se­hingga lahirlah putra pertama dari istrinya Siti Hajar yaitu seorang putra yang me­miliki sifat sabar yang diberi nama Ismail.

Kemudian saat Ismail berusia 6 tahun Allah SWT kembali menguji dengan memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya tersebut.

Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail pasrah terhadap ketentuan Allah SWT, dengan penuh ketaatan ketiganya ikhlas menjalankan perintah Allah.

Saat pisau di­de­katkan di leher Ismail, mukjizat besar terjadi. Allah SWT mengganti Ismail dengan sem­belihan yang besar, sehingga selamatlah dia (Q.S. 37: 99-120).

Kisah ini menjadi awal ada­nya syariat berqurban dalam agama Islam, mengisahkan tentang keluarga shalih yang rela mengorbankan apapun sebagai bukti ketaatan kepada Tuhan-nya.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved