Breaking News:

Hidupkan Lagi Peran Tokoh Adat di Tingkat Eks Marga di Provinsi Sumsel

Salah satu program utama nya adalah untuk menghidupkan kembali peran tokoh adat di tingkat eks marga (188 ek marga) yang pernah ada di Provinsi Sumsel

Editor: aminuddin
ist
Gubernur Sumsel H Sumsel saat pelantikan Dewan Pembina Adat Sumsel 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pembina Adat Sumsel dilantik Gubernur Sumsel, H Herman Deru di Griya Agung pada tanggal 27 Desember 2019 setelah sebelumnya dihelat kegiatan Musyawarah Daerah Pemangku Adat dari kabu paten dan kota di Sumatera Selatan. 

Salah satu program utama nya adalah untuk menghidupkan kembali peran tokoh adat di tingkat eks marga (188 ek marga ) yang pernah ada di Provinsi Sumatera Selatan.

Saat pelantikan, Gubernur H Herman De ru mempunyai ide untuk menghidupkan kembali apa yang disebut beliau dengan Pasirah Adat. Namun bukan bermakna model Pasirah zaman kesultanan ataupun zaman kolonial. 

Tapi Pasirah Adat yang dimaksudkan pak Gubernur adalah Pasirah sebagai fungsional adat untuk menangani dan menjaga pelestarian adat istiadat di di masing-masing masyarakat adat.

Jika kita kaitkan dengan ide Pak Guber nur barusandengan Peraturan Daerah 12 tahun 1988 yang merupakan dasar berdirinya Pembina, Pemangku Adat di Sumatera Selatan, kata Ketua Pembina Adat Sumsel, Albar Sentosa Subari, sangat tepat hal itu diakomodasi di dalam ketentuan Rapat Adat. (Pasal 4).

Salah satu ujud merealisasikan pembentukan Pasirah Adat tersebut, maka pada 5 April 2021 Pembina Adat Sumsel telah melaksanakan kegiatan sosialisasi di kabupaten Banyuasin, bertempat di ruang rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin yang diikuti semua Pembina dan Pemangku adat nya. 

Hal yang menarik di kabupaten Banyuasin ini, satu satunya kabupaten yang secara formal pengakuan masyarakat adat beserta kompilasi adat istiadat telah diatur dalam Peraturan Daerah. 

Sehingga tidak sulit lagi penyesuaian nya dengan regulasi peraturan perundang undangan yang ada. 

Acara itu sendiri dibuka  bapak asisten satu dan dilanjutkan oleh Ketua Pembina Adat Kabupaten Banyuasin, Drs H. Noer Muhammad. 

Yang menarik minggu ini ada info dari Kabupaten Musi Rawas. Mereka sedang menggodok peratutan desa bersama pe rangkat desa yaitu tentang pembayaran pelangkahan. 

Maksud dari pelangkahan adalah ketika ada  pemuda melamar gadis di lain desa, akan membayar uang pelangkahan.

Menurut Albar, kedepan akan dilanjutkan di setiap kabupaten kota se Sumatera Selatan agar dapat kiranya terbentuk lembaga Rapat Adat dengan fungsionarisnya disebut Pemangku Adat. 

"Mudah mudahan semua tidak ada halangan," kata Albar. (amn)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved