Breaking News:

Bhinneka Tunggal Ika: Warisan Pluralisme di Era Majapahit

Di zaman Majapahit kehidupan beragama di masyarakat berkembang wajar. Bukan saling mengganggu dan membiarkan setiap kelompok agama menggelar ritualnya

Editor: aminuddin
internet
albar sentosa subari 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kita sebagai bangsa yang mengenal kemajemukan, tentu tidak melupakan sejarahnya bahwa pluralisme (kemajemukan) sudah dikenal di beberapa kerajaan yang pernah ada di bumi nusantara ini. 

Salah satunya adalah di kerajaan Majapahit. 

(Kata Majapahit adalah penggalan dari kata " maja " dan " pahit").

Kata maja dan pahit tersebut menunjukkan pada sebuah nama buah yang banyak tumbuh di kawasan kerajaan Majapahit. 

Di Pakistan, India, Sri Langka, Nepal, dan Bangladesh, maja merupakan buah yang cukup penting yang banyak tumbuh di pura Hindu.

Majapahit dikenal sebagai negeri yang damai dalam perbedaan, baik ras, maupun agama.  

Dan berlanjut kala Raja Haram Wuruk memerintah dari tahun 1351-1389. 

Di bawah pemerintahannya, Majapahit mencapai puncak kejayaan. 

Hayam Wuruk memiliki kerabat yang be ragama islam, bahkan ibunya sendiri, Ratu Tribuwana Tunggadewi beragama Budha. 

Pengakuan pluralisme pada zaman Majapahit dapat kita simak dari slogan yang menggambarkan kedudukan Raja Hayam Wuruk yang menjalankan pemerintahannya didampingi oleh pemuka pemuka agama yang berbeda. 

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved