Wawancara Eksklusif

Once Mekel Suka Mengamati Politik, Tidak Lucu Presiden Tiga Periode: Siap Turun ke Jalan

Saya merasa tidak punya potongan politisi. Politik itu harus 100 persen atau tidak sama sekali.

Editor: Soegeng Haryadi
TRIBUNNEWS
Once Mekel 

Ada latihan tiga atau empat kali. Saya kasih tahu ke Bu Ani. Enaknya seperti ini bagi suaranya. Bikin sedikit variasi. Yang mengiringi Erwin Gutawa. Pengalaman unik.

Bagaimana soal prosesi Sabda Alam?
Lagu Sabda Alam itu yang kami rekam sebetulnya sudah direkam sekitar empat tahun lalu. Tapi tidak pernah dirilis. Jadi setelah empat tahun dibiarkan di label saya. Kemudian label lama tempat saya bergabung ngajak untuk yuk rilis saja.

Daripada tidak jadi apa-apa. Untuk tambah-tambahan di masa Covid dan kreasi. Dirilis lah kemudian bikin video clip. Empat tahun lalu yang bikin musik Pay Slank. Mengarang Chrisye dan Junaedi.
Jadi sebetulnya sudah kerjaan lama. Tapi buat video clip yang baru. Di Puncak. Syukur dapat tanggapan yang lumayan.

Ada sisi personal dari lagu Sabda Alam terhadap Anda?
Sebetulnya saya senang sama lagu-lagu bikinan orang dulu. Lirik-liriknya tidak terperangkap dalam perasaan suasana hati aku dan kamu, kamu dan aku. Bolak-balik saja. Musisi atau pengarang lagu dulu, sering membuat lagu-lagu yang deskriptif.

Suasananya terlihat, meskipun kita tidak melihat. Kita bisa merasakan suasana itu dari pemilihan kata-kata dan melodi yang sesuai. Lagu Chrisye, Eros Djarot, Debby Nasution, generasi di zaman itu banyak sekali yang sangat deskriptif. Kita kalau lihat itu seperti melihat film. Beda sama beberapa lagu yang bicaranya ya aku-kamu, aku sakit hati, bukannya jelek ya. Tapi itu bedanya.

Dan progresi-progresi chord lagu-lagu di zaman Chrisye ini memungkinkan kita terbawa suasana yang lebih deskriptif dalam lagunya. Lagu dulu misal Lilin Kecil, depannya "Oh.manakala mentari tua lelah berpijar,". Sabda Alam gitu juga kan, "Kicau burung bernyanyi tanda buana membuka hari. Dan embun pun memudar menyongsong fajar," kita masuk dalam suasana pagi.

Jadi itu yang unik dari generasi emas musik tersebut. Eros Djarot, Jockie Surjoprajogo, Chrisye, saya kira itu yang seru dari generasi mereka. Musiknya juga banyak aransemen yang menunjang pemilihan kata itu lebih deskriptif. Visualisasi dalam lagu itu lebih hidup.

Generasi emas zaman dulu dan zaman sekarang apa pembedanya?
Saya tidak tahu juga ya apa bedanya. Kecuali teknologi sekarang lebih hebat saja. Banyak musisi sekarang yang hebat-hebat. Cuma kadang-kadang tidak kelihatan karena terlalu banyak suplai musik di pasar Indonesia.

Apalagi yang jago-jago malu-malu untuk tampil. Lebih tidak kelihatan lagi. Orang yang ikut Indonesia Idol, ikut lomba nyanyi di TV. Yang tidak ikut mungkin banyak. Apa banyak yang jago tapi tidak ikut? Banyak. Yang belum ikut saja.

Saya melihatnya perbedaan di teknologi. Teknologi membuat banyak orang bisa memproduksi lagu, bisa nyanyi, bagus banget ada lomba nyanyi di TV. Karena nyanyi di TV itu sulit banget. Secara live, karena kita akan melihat dari rumah kesalahan-kesalahan lebih jelas.

Kalau kita rekaman kan kita bisa dengar karena volumenya kecil. Kalau dipanggung kan kita terbawa suasana. Sebetulnya sulit main di TV, tapi saya lihat banyak yang bagus-bagus nyanyi di ajang pencarian bakat di TV.

Masalahnya banyak lagi musisi-musisi hebat tenggelam oleh sensasi-sensasi yang lain. Yang berbeda. Teknologi memungkinkan begitu banyak orang bisa membuat musik, bernyanyi. Persaingan musisi sekarang lebih sulit.

Kita makanya tidak bisa dengan mudah melihat, siapa musisi yang wow. Mereka tenggelam, ada dalam saingan yang luar biasa. Dulu kita jauh lebih ringan. Musisi rock itu, Dewa, Sheila on 7, Jamrud, Padi, dll. Itu saja di top ten. Kalau sekarang saingannya bukan main.

Anak-anak sekarang banyak juga yang bagus. Liriknya banyak juga yang deskriptif, mesti akui seperti Tulus, Pamungkan, Hindia, Raisa juga bikin liriknya bagus. Cuma kita mendapatkan sensasi sebesar Dewa atau apa karena saingannya banyak.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved