Wawancara Eksklusif

Once Mekel Suka Mengamati Politik, Tidak Lucu Presiden Tiga Periode: Siap Turun ke Jalan

Saya merasa tidak punya potongan politisi. Politik itu harus 100 persen atau tidak sama sekali.

Editor: Soegeng Haryadi
TRIBUNNEWS
Once Mekel 

Namanya manusia kalau bosen ya. Masyarakat butuh pemimpin yang lebih komunikatif, artikulatif, Pak Jokowi hebat sekali bekerja, sedikit bicara. Bukan orang tidak suka itu, mungkin masyarakat menginginkan gaya yang berbeda.

Saya sendiri tidak suka pemimpin yang banyak bicara. Kadang-kadang orang banyak bicara kerjanya tidak bagus walaupun tidak semua.

Tapi kita tetap memerlukan pemimpin yang artikulatif, bisa merangkul semua orang dari berbagai golongan, karena masyarakat kita tetap terpolarisasi. Dia harus punya agenda merangkul semua. Indonesia ada di masa krusial.

Orang-orang mengepalkan tangan, tegakkan keadilan, Pancasila, kehormatan kepada perbedaan. Tapi pada akhirnya kita harus membuktikan. Narasi tidak ada gunanya kalau kenyataannya berbeda.
Kita prinsip keren-keren tapi keadaan nyata luntur semua prinsip.

Peraturan-peraturan itu gugur oleh suara-suara mayoritas. Keputusan pengadilan, MA, itu bisa dikalahkan suara mayoritas. Ini tidak sehat. Negara tidak bisa dipimpin oleh orang-orang yang memegang prinsip negara kita.

Kalau kita harus punya pimpinan yang menerapkan itu, bukan hanya prinsip kosong tidak berdaya ketika ada tantangan. Saya berharap ada ketegasan, dan menegakkan prinsip kenegaraan dengan benar.

Tidak perlu banyak bicara, kerja banyak, dan agenda yang berikut kalau kita lihat sekarang banyak kerja. Yang berikut menerapkan prinsip kenegaraan yang tegas. Kalau pekerjaan dan infrastruktur kita sudah lihat.

Anda sempat berduet dengan Sri Mulyani? Bagaimana ceritanya?
Itu kan saya menjadi bagian dari sebuah acara untuk penggalangan dana. Dimana dananya akan dikumpulkan alumni UI nanti disumbangkan kepada korban-korban bencana alam dan pihak-pihak yang memerlukan di saat-saat yang tepat.

Saya melibatkan diri di acara itu, sebagai lulusan UI. Hari itu memang kita alumni, saya diminta teman-teman pengurus untuk ikut serta. Lalu ada punya ide bagaimana kalau Anda nyanyi dengan Sri Mulyani. Supaya lebih banyak sumbangan.

Saya sih mau saja. Selain bisa membantu untuk mengumpulkan uang, saya juga bangga bisa nyanyi dengan Sri Mulyani. Nah buat saya sosok Sri Mulyani unik. Saya kenal beliau cukup lama.

Mungkin enam-tujuh tahun lalu. Ada beberapa acara yang saya datang. Ada acara santai. Ada juga satu kesempatan Ibu Sri Mulyani membuat lirik untuk lagu teman saya. Saya menjadi perantara antara yang punya lagu dengan Ibu Sri Mulyani.

Uniknya, Ibu Sri Mulyani benar-benar membuat lirik. Lalu dia e-mail liriknya, dan menjadi suatu lagu. Lagu tentang wanita. saya melihat beliau memang wanita yang teguh dan cerdas. Punya warna-warna atau jiwa seni juga.

Ketika saya manggung dengan Bu Sri Mulyani di rumahnya, di antara kesibukan banyak, dia masih punya energi untuk melakukan kegiatan seni. saya sangat menghargai ya. Suatu yang istimewa dari beliau.

Latihannya tidak lama. Hari itu saya tidak direncanakan untuk nyanyi di jam itu, tapi karena ada perubahan rencana. Jadi saya datang. Saya abis begadang tidur jam 04.00. Syuting jam 11 atau setengah 12 siang.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved