Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Once Mekel Suka Mengamati Politik, Tidak Lucu Presiden Tiga Periode: Siap Turun ke Jalan

Saya merasa tidak punya potongan politisi. Politik itu harus 100 persen atau tidak sama sekali.

Editor: Soegeng Haryadi
TRIBUNNEWS
Once Mekel 

ONCE atau lengkapnya Elfonde Mekel dalam perbincangan dengan Manager Pemberitaan Tribun Network Rachmat Hidayat di Studio Once, di Jakarta Selatan, Rabu (24/6), mengungkapkan kerap ada yang menawari masuk ke politik praktis. Namun pria kelahiran Makassar ini berpandangan menjadi politisi itu harus 100 persen, terutama untuk melayani dalam cakupan masyarakat yang besar. Ia memilih tetap berada di jalur musik. Namun, tetap mengamati dunia politik sebagai masyarakat Indonesia. Berikut petikan wawancara eksklusif Tribun Network bersama Once.

Anda tertarik ke dunia politik?
Oh saya selalu tertarik dengan dunia politik tapi tidak tertarik dengan dunia politik praktis. Kalau dunia politik saya selalu tertarik untuk mengamati dan menganalisa. Waktu mahasiswa banyak teman aktivis. Saya seumuran dengan Fadli Zon. Banyak teman-teman seumuran saya, dari angkatan 98.

Saya juga ikut dalam diskusi politik di kampus. Ada peristiwa penting dalam hidup saya yang merasa, politik (praktis) itu harus dijauhi karena politik itu harus ditekuni 100 persen. Kalau tidak akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Dulu ada teman saya, yang pikir saya senang politik. Mereka suka ngajak. Saat ada pergolakan di markas PDI, saya disuruh ambil paket di LBH oleh teman kampus.

Baca juga: Siasat Once Mekel di tengah Pandemi, Buka Kedai Namun Tetap di Musik Hingga Tua: Panggilan Hidup

Lalu saya jalan banyak tentara, massa, itu tahun 1996. Reformasi dimulai awalnya dari peristiwa Kudatuli. Saya ambil paketnya dari LBH, saya taruh di angkutan umum. Pas sudah dekat rumah, saya buka paketnya, isinya pamflet untuk melawan dengan gambar kepalan. Kalau digeledah sama tentara bisa digebukin aparat. Itu satu kisah. Banyak hal lain.

Saya merasa tidak punya potongan politisi. Politik itu harus 100 persen atau tidak sama sekali. Jadi musik saja lah, saya terpanggil. Tapi kalau politik mengamati. Kalau politik harus 100 persen politik. Teman-teman saya ditangkap di rezim Pak Harto. Beberapa teman saya dipenjara. Saya pikir tidak kuat mengikutinya. Tapi beberapa teman ini suka ngumpul untuk menganalisa kebijakan publik, tapi tidak serius.

Kalau sekarang sudah terlalu banyak orang hebat, nanti terlalu berisik. Jadi saya pikir tekuni musik saja. Saya juga mengukur, kalau orang mau masuk politik harus bisa mengukur lingkarannya kecil apa besar. Ada orang lingkaran kecil ikut politik buat apa. Misal, hanya dia keluarganya.

Baca juga: Akui Tak Akur Dari Awal, Gantikan Posisi Ari Lasso di Dewa19, Once Mekel Berantem dengan Ahmad Dhani

Yang masalah lingkaran tidak besar tapi mau ikut politik. Lingkaran kepedulian kecil begitu ikut politik cuma cari uang untuk memenuhi lingkaran itu saja. Kita harus punya kepedulian yang besar buat orang-orang lain. Lebih baik kita harus mampu untuk mawas diri.

Anda sering ditawari masuk politik?
Oh iya sering. Dari berbagai partai. Banyak ya. Saya cuma bilang saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Saya masih mau cari uang, masih mau coba bikit di dunia usaha. Bukan tidak peduli dengan orang banyak.

Sebenarnya saya suka lebih aktif. Tapi saya pikir, politisi ideal harus selesai dengan dirinya sendiri dan mau melayani orang banyak. Orang seperti Jokowi mungkin lingkarannya se-Indonesia. Soekarno lingkarannya Asia-Afrika mungkin dunia. Dia lingkarannya besar banget.

Wacana Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024 bagaimana Anda melihatnya?
Tidak mungkin karena Pak Jokowi tidak berminat untuk mencalonkan diri lagi. Selain itu memang itu melanggar konstitusi, yang diperbolehkan hanya dua periode. Saya kira memang orang bisa saja punya wacana wah omongan saja.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved