Arogansi Kekuasaan Otomatis Akan Pupus Tatkala Sadar Sebagai Hamba Allah

Bulan suci Ramadhan sebagai bulan yang penuh Rahmat merupakan momentum un­tuk me­­re­po­si­sikan diri sebagai hamba Allah.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs H. Syarifuddin Ya’cub M.HI 

Malah Allah SWT me­me­rin­tahkan kepada orang yang ria tersebut supaya minta pahala kepada orang-orang yang mereka riai ke­tika di dunia.

Oleh karena itu apapun ya­ng mereka lakukan apa­bila didorong oleh ria, tidak ada nilainya sedikitpun di sisi Allah SWT.

Seseorang yang belajar dan meng­ajar serta su­ka membaca Al-Qur­an dimana ia diha­dap­kan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah dite­ri­ma­nya serta iapun meng­a­kuinya, lantas ditanya:

"Dipergunakan untuk apa nik­mat itu?.

Ia menjawab "Sa­ya pergunakan untuk belajar dan mengajar Al Quran, serta saya suka membaca Al Quran untukMu".

Sholat yang dilakukan hendaknya sholat yang; khusyu'. khudlur dan tadabbur fi ja­mi'i qir­a'atina; Khusyu', ialah shalat yang dilakukan dengan tertib antara rukun-ru­kunnya de­ngan tuma'ninah.

Menurut istilah ahli hakikat; "Khusyu' adalah patuh pada kebenaran. Ada yang me­ng­­a­­takan bahwa khusyu' adalah rasa takut yang terus menerus ada dalam ha­ti."(Kitab al-Ta'rifat, 98)

Untuk mengurangi gangguan konsentrasi (khudhur), maka hindarkan sesuatu yang me­ng­­gangu seperti  gambar-gambar yang ada di hadapan ketika shalat, sebagaimana Ra­­sulullah SAW menyatakan ketika melihat sulaman di baju beliau;

"Berikan pa­kai­an ini ke­­pada Abu Jahm, tukarlah dengan baju yang tidak ada gambar-gambarnya, mi­lik Abu Jahm, karena gambar-gambar itu telah melalaikan aku dari shalatku tadi."

Da­lam riwayat lain;" sesungguhnya saya telah melihat gambar-gambar itu waktu sedang shalat, hampir menjadi cobaan bagiku."(HR.Bukhari, Muslim dan Abu Uwanah)

Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa, apabila apa-apa yang diucapkan di da­­­lam shalat tersebut dimengerti dan dijiwai dari lubuk hati yang paling dalam (hati Nurani), maka shalat tersebut akan bermakna dan bernilai aflikatif dalam kehidupan se­­hari-hari.

Maka setiap apa yang dia lakukan akan mendapat petunjuk dan hidayah Allah SWT dan shalat tersebut berfungsi "mencegah dari perbuatan keji dan mun­kar".

Apabila komitmen di dalam sholat tersebut di patuhi secara konsistent, maka ak­ti­fitas di luar shalatpun akan terkontrol, dan tetap mematuhi aturan-aturan Allah SWT.

Se­ba­gai ha­sil dari shalat yang khusyu', khudhur dan tadabbur,terbuka hatinya un­tuk me­nyan­tun­i kaum dhu'afa' dan bersilaturrahim.

Artinya dari keshalehan indi­vi­dual ber­dampak pada keshalehan sosial, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Se­perti terjadi di masa Rasulullah SAW para sa­habat diantaranya Saklaba yang min­ta dido'akan supaya menjadi kaya, ironisnya se­te­lah memperoleh kekayaan yang ber­limpah, yaitu peternakan kambingnya berkem­ba­ng pesat.

Ketika datang petugas un­tuk menagih zakat kepadanya, timbul sifat bakhi­lnya, dan enggan mengeluarkan za­kat.

Demikianlah ibadah dan akhlak itu mempunyai hubungan korelasi timbal-balik di ma­­na yang satu saling memberi warna kepada yang lain.

Begitulah ibadah manusia itu a­kan memberi warna kepada akhlaknya, sedang sebaliknya, akhlaknya akan mem­beri war­na pula kepada ibadahnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved