Arogansi Kekuasaan Otomatis Akan Pupus Tatkala Sadar Sebagai Hamba Allah

Bulan suci Ramadhan sebagai bulan yang penuh Rahmat merupakan momentum un­tuk me­­re­po­si­sikan diri sebagai hamba Allah.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Drs H. Syarifuddin Ya’cub M.HI 

Jawabnya "Siapa yang men­ta'atiku (yang mengikuti sunnah) mereka masuk surga, dan barang siapa yang dur­­haka terhadapku (maksiat) berarti dia menolak". (HR. Imam Bukhari, dari Abu Hu­­rairah ra.)

Dalam sebuah dialog seorang sahabat meminta petunjuk kepada Rasulullah SAW yang artinya :"Dari Abu Ayyub Kholid bin Zaid Al-Ansory ra. bahwasanya seorang laki-laki ber­­tanya kepa­da Rasulullah SAW :

"Ya Rasulallah! Beritahukan kepadaku a­mal­-amal apa yang akan memasukkan aku ke Surga? Nabi Muhammad SAW menga­ta­kan:

Eng­kau mengabdi (menyem­bah) kepada Allah SWT dan jangan mense­ku­tu­kan­Nya de­ngan se­suatu, dan mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan meng­hu­bungkan sila­tur­rahim. (Muttafaq 'alaihi)

Dari dialog tersebut di atas, memberikan panduan bagi seseorang yang memper­si­apkan di­rinya sebagai calon penghuni Surga adalah; melakukan pengabdian yang ikhlas se­mata-mata karena Allah SWT.

Apapun yang dilakukan seseorang dalam ak­ti­fitas ke­­sehariannya adalah dalam kerangka pengabdiannya sebagai hamba Allah SWT (Ibadah umumiyah).

Profesi yang dia tekuni adalah amanah Allah SWT se­ba­­gai kon­tri­­businya dalam upaya memberikan kemudahan bagi umat manusia dalam ke­hi­dupan di­­muka bumi ini.

Melaksanakan tugas secara professional dan propor­si­on­al dengan pe­ngertian ikhlas dan inilah yang dimaksud Rasulullah SAW dengan me­miliki sifat sem­purna.

Sifat sempurna menurut Rasulullah SAW itu adalah; "Ber­ka­ta benar dan be­kerja dengan jujur".

Berkata benar diperlukan dalam setiap saat dan dalam kondisi apapun; sebagai pe­mim­pin, me­nun­tun bawahannya dengan pengarahan yang tepat dan obyektif, me­nun­jukkan si­kap kejujuran da­lam bekerja sehingga menjadi tauladan, panutan dan ido­la.

Sebagai ba­wahan dituntut in­te­gritas yang tinggi, bekerja untuk bangsa dan Negara, bu­kan un­tuk pribadi seseorang dalam arti ke­tika ada pimpinan dia bekerja dengan te­kun, begitu pula ketika pimpinan sedang tidak ada  diapun  tetap bekerja secara pro­fe­s­sional dan pro­porsional.

Tidak melakukan sesuatu yang cenderung kearah syirik; seperti ria, yaitu dalam se­mua ke­gi­at­an­nya ingin mendapat pujian orang.

Memang Rasulullah SAW meng­kha­watirkan umatnya kelak da­pat terkontaminasi oleh syirik kecil yaitu ria.

Orang yang melakukan i­badah karena ria ar­ti­nya tidak ikhlas karena Allah SWT  maka pada hari kiamat kelak Allah SWT tidak mau ber­bi­ca­­ra kepadanya.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved