Breaking News:

OPINI : Penanganan Perkara Anak Berkonflik Dengan Hukum

Dalam penyelesaian perkara anak berkonflik dengan hukum telah diatur dalam regulasi khusus yaitu Undang Undang No. 11 tahun 2012

Editor: Welly Hadinata
IST
Foto Ilustrasi : Penanganan Perkara Anak Berkonflik Dengan Hukum 

Penulis     :  Armicho Roy Jaka Suma, S.Sos

NIP             : 19901226 2017121001

Jabatan     : Pembimbing Kemasyarakatan pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Lahat

SRIPOKU.COM -- Dewasa ini kita sering mendengar berita mengenai anak dibawah umur yang melakukan tindak pidana. Sebagai contoh di awal bulan maret tahun 2020 negeri ini sempat dihebohkan dengan berita tentang remaja perempuan berusia 15 tahun yang melakukan pembunuhan terhadap balita berusia 5 tahun di jakarta pusat.

Selain itu juga ada kasus mutilasi di bekasi yang pelakunya merupakan anak berusia 17 tahun, dan masih banyak lagi kasus kasus tindak kriminal yang dilakuakan oleh anak dibawah umur akhir akhir ini tercatat di Balai Pemasyarakatan kelas II Lahat tempat penulis berdinas, sejak 2021 ini telah tecatat 32 kasus anak yang dialakukan pendampingan oleh pembimbing kemasyarakatan.

Lantas bagaimanakan penyelesaian perkara anak Berkonflik dengan hukum tersebut? Apakah penyelesaian perkara anak Berkonflik dengan hukum tersebut sama dengan penyelesaian perkara orang dewasa?.

Ataukah lebih naif lagi masyarakat berasumsi bahwa anak berkonflik dengan hukum tidak bisa di proses secara hukum? Mengingat fenomena tersebut penulis mencoba menjelaskan serta memberikan gamabaran dan pemahaman kepada masyarakat umum mengenai penanganan perkara anak berhadapan dengan hukum.

Dalam penyelesaian perkara anak berkonflik dengan hukum telah diatur dalam regulasi khusus yaitu Undang Undang No. 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak.

Pada pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa “Anak yang Berhadapan dengan Hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi
tindak pidana”.

Selanjutnya pada pasal 1 ayat 3 disebutkan“Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana”. 

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved