Breaking News:

Berita Palembang

3 Kecamatan di Palembang Ini Masih Bertahan di Status Zona Merah, 'Kasus Ini Sifatnya Fluktuatif'

Meskipun jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori resiko tinggi ada tiga kecamatan yakni Bukit Kecil, Ilir Timur II dan Ilir Timur III

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM/ANTONI AGUSTINO
Ilustrasi Palembang Zona Merah Covid-19 

Laporan wartawan Sripoku. com, Rahmaliyah

SRIPOKU. COM, PALEMBANG - Perkembangan kasus COVID-19 untuk Kota Palembang masih dalam status resiko tinggi atau zona merah.

Meskipun jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori resiko tinggi ada tiga kecamatan yakni Bukit Kecil, Ilir Timur II dan Ilir Timur III. 

Kasi pencegahan dan pengendalian penyakit menular Dinkes Kota Palembang, Yudhi Setiawan mengatakan, meski hanya tiga kecamatan yang statusnya zona merah sementara lima kecamatan berada di zona orange, 10 kecamatan lainnya masuk zona kuning. 

"Sampai saat ini data perkembangan kasus sesuai tingkat resiko di BNPB Palembang masih zona merah, walaupun memang ada kecamatan yang lain statusnya kuning dan orange. Artinya kita tetap harus waspada bahwa perkembangan kasus ini sifatnya fluktuatif," katanya, Selasa (8/6/2021). 

Berdasarkan data Dinkes Kota Palembang dari tiga kecamatan yang statusnya zona merah kasus aktif paling banyak ada di Kecamatan Ilir Timur II dengan total 34 kasus,  Ilir Timur III 29 Kasus dan Bukit Kecil 23 kasus aktif. 

"Total dari 18 Kecamatan di Palembang jumlah kasus aktif saat ini 892 kasus, angka konfirmasi positif naik 71 kasus dan angka kesembuhan 82 kasus, " Jelasnya

Untuk zona risiko per kelurahan dan kecamatan memang ada perubahan tingkat resiko. Dengan memakai cara perhitungan zona risiko yang baru sesuai standar yang diatur oleh WHO, hasilnya 15 kecamatan di Palembang berada di zona oranye dan tiga kecamatan di zona kuning. 

Yudhi menjelaskan, pada pola perhitungan sebelumnya jika dalam 3 Minggu terakhir tidak ada penurunan kasus aktif lebih dari 50 persen dari puncak kasus selama 3 Minggu tersebut maka wilayah tsb akan masuk zona merah, tanpa mempertimbangkan besar atau kecil kasus. 

"Sekarang kami memakai data insiden rate dan mortalitas rate. Ini sudah standar perhitungan WHO," ungkapnya. 

Disebutkan Yudhi, Secara epidemiologis akan lebih baik karena ada pengaruh juga dengan jumlah penduduk, sehingga jika kasus atau kematian nya tinggi dan jumlah penduduknya sedikit angka insiden dan mortalitas juga akan makin tinggi. 

"Kalau yang lama jika ada peningkatan kasus dalam 3 Minggu daerah tersebut langsung zona merah," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved