Breaking News:

Makan Kue Rasa Tanah Kuburan

Bagaiamana mungkin bulan muncul di malam lebaran. Sebagaimana penanggalan hijriyah Islam, bulan mustahil nampak menjelang awal Syawal sesudah Ramadhan

ist
Asmaran Dani 

“Bulan di atas Kuburan”
Sitor Sitomorang, 1955 Malam Lebaran.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - SAJAK Sitor Sitomorang terangkum dalam antologi “Dalam Sajak” yang terbit 1982 pada jaman itu menjadi perdebatan di kalangan Sastrawan.

Bagaiamana mungkin bulan muncul di malam lebaran.

Sebagaimana penanggalan hijriyah Islam, bulan mustahil nampak menjelang awal Syawal sesudah Ramadhan.

Banyak sastrawan di jaman itu melayangkan gugatan kepada Sitor.

Konon Sitor terlalu hiperbola menyampaikan pengalaman saat bertandang ke rumah sahabatnya Pramoedya Ananta Toer, di malam lebaran yang tinggal menunggu hitungan jam.

“Sajak adalah organisme: Kehidupan sejati. Bila dibedah dengan pisau ilmu dan teori yang berlebihan niscaya sajak tersebut akan mati konyol.” Ucap Sitor yang saat itu menjawab dengan argumentatif semua pertanyaan semua sastrawan mengenai sajak fenomenal yang terlanjur sudah ketok palu menjadi sajak legendaris di kancah kesusastraan.

Bagaimana kalau Sajak Sitor tersebut kita rayakan di lebaran tahun ini? Bukankah kita bisa mereflesikan makna lebaran yang memang terasa berbeda sejak 2020 kemarin.

Lebaran berasa aroma tanah kuburan meskipun kehebohan dan hingar-bingar masih dapat kita jumpai di televisi dan media sosial.

Semua masih menyempatkan belanja pakaian, rela mengular di mall dan pasar. Juga sibuk menyiasati agar bisa pulang ke kampung halaman dengan berbagai layanan jasa calo yang mengambil kesempatan meraup rezeki atas tragedi Covid-19. 

Halaman
123
Editor: aminuddin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved