Breaking News:

Menjaga Eksistensi Pancasila di Era Millenium

Saat cita-cita kemerdekaan itu kita letakkan sebagai tugas segolongan saja, pada saat itu­lah ki­ta sedang melepaskan kepercayaan kita pada Pancasila.

Editor: Salman Rasyidin
Menjaga Eksistensi Pancasila di Era Millenium
ist
Dra. Syafiah Zuhdi MSi

Selama lebih dua dasa warsa setelah reformasi, bangsa Indonesia per­nah mengalami ujian berupa konflik horizontal yang nyaris memporak porandakan bangsa ini karena adanya kepentingan politik/golongan.

 Disadari atau tidak, banyak pihak yang sepertinya tidak ingin Indonesia menjadi besar dan kuat.

Kita sering menerima serangan pintar F-6, food, fashion, film, fantasi, filosofi dan fi­nan­sial.

Serangan filosofi yang paling menghawatirkan di era millenium ini merupakan ben­tuk perang ideologi dan diharuskan ada kewaspadaan nasional terhadap ideologi baru.

Apa­bila kita tidak cermat, maka masyarakat akan cenderung ikut arus ideologi baru (luar) ter­se­but.

Begitu pula terhadap serangan food, fashion, filem, fantasi dan finansial bila tidak segera diwaspadai akan menggerus nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Peng­alaman sejarah juga telah menunjukkan Indonesia pernah beberapa kali diterpa perpecahan antar anak bangsa yang ingin mengganti ideologi bangsa pada akhirnya negara masih mampu ber­tahan.

Kemampuan bertahan dari perpecahan bangsa ini bukan tanpa sebab.

Hal ini dise­bab­kan bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut oleh Anis Baswedan “tenun kebangsaan” (Pan­casila).

Persimpulannya yang erat menghasilkan kekuatan. (2015,18).

Menjaga tenun kebangsaan itu dengan membangun semangat saling menghormati serta toleransi.

Saat ini memasuki era millennium, era dunia serba praktis, kita dihadapkan pada tan­tangan bagaimana menyingkronkan budaya Pancasila dan kuatnya arus globalisasi.

Per­kembangan iptek dan budaya luar sangat mudah disebarkan melalui media online untuk kon­sumsi generasi milenial, termasuk pengaruh radikalisme dan intoleran.

Disinilah kita diuji bagaimana tetap menegakkan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan tetap menjadi ideologi yang up-to-date dengan perkembangan zaman, melalui pendidikan formal, informal maupun kehidupan sehari-hari seperti, menjadi lebih kritis dalam menerima informasi dan me­nye­bar­kannya serta membangun sikap toleransi mengingat Indonesia merupakan negara multi etnis mudah terhanyut arus radikalisasi dan intoleran yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Pancasila dan Komitmen Elite Politik

Pancasila adalah refleksi kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia yang meru­pakan intisari dari kebhinekaan Indonesia.

Pancasila merupakan hasil konsensus bersama pen­diri bangsa dalam rangka mengakomodir seluruh perbedaan yang menjadi karakteristik bangsa kita.

Indonesia adalah sebuah negara yang menjadikan falsafah Pan­casila sebagai lan­dasan berbangsa dan bernegara yang akan sangat mempengaruhi ca­ra pandang masyarakat se­cara umum.

Sejak era reformasi, Pancasila jarang di­uta­rakan dan disampaikan para pejabat dan tidak lagi menjadi wacana publik yang dibahas dan didiskusikan oleh berbagai kalangan masyrakat. (Drs. HA. Mujib Rohmat, 2015). 

Dengan perubahan ini maka terjadi perubahan ekstrim terhadap Pancasila dari satu kutub ke kutub lainnya.

Kondisi yang menjadikan Pancasila kurang berperan dalam kehidupan ber­ba­ngsa dan bernegara tentu amat merugikan bangsa dan Negara.

Dimana, Pancasila amat diper­lukan sebagai saringan dari serbuan faham, budaya dan ideologi  asing melalui globalisasi de­ngan arus teknologi

Kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini, disampaikan oleh Prof. Toshiko Kinoshita, Gu­ru Besar Universitas Waseda Jepang dikutip dari Yasraf Amir Piliang (2003, 174) bah­­wa, ma­sya­rakat Indonesia dilukiskannya sebagai bangsa yang hanya memperkaya di­ri sendiri dan tak pernah berpikir panjang dalam arti tidak mempunyai kemampuan un­tuk melihat masa de­pan (future) dan tidak mampu menyusun sebuah tujuan ideal.

Be­tapa tidak, ketika tubuh bangsa ini memerlukan pemikiran, strategi dan tindakan nyata dari setiap orang, para politisi justru sibuk mencari, mempertahankan dan meng­aman­kan posisinya.

Bangsa ini hanya mam­pu menjalankan model kehidupan taken for granted, yaitu pengulangan-pengulangan pola ting­kah laku, tindakan dan aksi dari hari ke hari sehi­ng­ga tidak mampu secara kritis merubah diri kearah lebih baik, lebih ber­moral, lebih demokratis dan lebih human.

Setelah pudarnya euforia dan ruh reformasi, orang kini kembali menjalani kebiasan korupsi, ko­lusi dan nepotisme.

Sekalipun Indonesia memiliki sumber alam yang me­limpah, tetap men­jadi monopoli kelompok masyarakat tertentu dan kemiskinan tetap men­jadi persoalan yang tidak pernah dapat diselesaikan dari waktu.

Untuk menjadi ne­gara yang survive menurut Prof. Drs. Budi Winarno, (2010; 160,163) sekaligus menjadi negara yang kuat, disegani dan ber­mar­tabat serta mampu melindungi warga negaranya ti­balah saatnya pemerintah segera ban­ting stir guna menyelamatkan Indonesia dari kerterpurukan yang terus menerus dalam semua di­mensi kehidupan.

Oleh karena itu, me­­nurutnya diperlukan komitmen yang kuat dari para elit politik untuk memak­simal­kan dan memperkuat kapabilitas nasional dalam semua di­men­sinya serta mem­per­ta­han­kan nilai luhur Pancasila dalam rangka memelihara jati diri bangsa.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved