Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Jejak 'Indonesia' dan KH Ahmad Dahlan di Thailand (1): Melatih Pasukan dan Merawat Tanaman Kerajaan

Terdapat Kitab suci Al Quran tertua asal Indonesia masih tersimpan dengan baik di museum Ahmadiyah Islamiyah

Editor: Soegeng Haryadi
Jejak 'Indonesia' dan KH Ahmad Dahlan di Thailand (1): Melatih Pasukan dan Merawat Tanaman Kerajaan
ISTIMEWA
Duta Besar Indonesia untuk Thailand, Rachmat Budiman

Pada saat itu raja membawa sekitar 6 orang Jawa untuk dijadikan orang-orang yang nanti mengurus halaman tanaman yang ada di kerajaan.

Pada kunjungan ke Indonesia selama tiga kali itu, raja sangat terpikat dengan halaman indah di Keraton Yogyakarta, saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor, orang-orang Jawa dikenal ahli dalam pertanian. Jadi dibawa enam orang itu sekaligus mengajarkan cara-cara bercocok tanam.

Kalau kita lihat sejarah 1656 itu ketika Raja Narai ada orang Indonesia kemudian Raja Rama Lima 1871 ke Indonesia, kemudian tahun 1920an ini banyak dari warga kita dari Sumatera khususnya Minangkabau banyak lari ketika terjadi pergerakan 1920 dikejar oleh Belanda. Romusa juga menjadikan cikal bakal orang Indonesia ke sini.

Basuki Abdullah juga jadi pelukis istana. Ini awal keberadaan orang Indonesia ada yang karena berdagan, ada setelah perjalanan ke Mekkah kembali jatuh hati dengan situasi di sini.

Karena perjalanan ke Mekkah berbulan-bulan naik kapal, singgah ke sini. Ada yang belajar. Di sini antara lain tokoh yang disebut pak Irfan Dahlan.

Ketika itu beliau akan belajar di Pakistan. Setelah belajar, kemudian beliau tidak kembali lagi ke Indonesia. Banyak orang yang menafsirkan masing-masing.

Waktu itu sejarahnya Ahmad dan Muhammad itu sahabat. Terjadi perbedaan pandangan pak Irfan Dahlan sebagai putra tokoh, belajarnya ke Labore yang dikenal Ahmadiyah.

Banyak yang mempertanyakan Ahmadiyah dan Muhammadiyah, jawaban yang menarik bisa ditanyakan detail kepada anak pak Irfan Dahlan. Jawabannya tepat apakah pak Irfan Ahmadiyah atau Muhammadiyah.

Jawabannya samgat sederhana, Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.

Jadi dia tidak mempersoalkan apakah Ahmadiyah atau Muhammadiyah, tapi adalah Islam yang berdasarkan kepada Qur'an dan Hadits itu. Kemudian ketika kembali dari Pakistan, di sinilah pak Irfan Dahlan bermukim.

Karena beliau misinya sangat fokus pada dunia pendidikan. Bagi orang-orang berkumpul komunitas, luar biasa, karena pola reformis.

Orang-orang yang berkumpul di kampung Jawa. Itu pemikiran pak Irfan Dahlan dianggap pemikiran yang terlalu jauh majunya. Di dalam hal ini, tidak seluruhnya menerima, ada sebagian, setelah berlama-lama di sni lahirlah 10 anak pak Irfan Dahlan. Dan ini putri keenam pak Irfan. Semua masih ada dari yang tertua hingga termuda.

Nama itu baru muncul belakangan kepada anak-anaknya pak Irfan Dahlan tidak pernah bercerita Muhammadiyah tapi siapa Ahmad Dahlan sebagai orang tua dan juga saudara-saudaranya. Hubungan family bukan organisasi. Nama Dahlan diturunkan anak laki-laki, jadi bermarga Dahlan.

Diaspora Indonesia dari mana saja asalnya di Thailand?
Pertama kita berbicara jumlah warga negara Indonesia. Memang kalau saya melihat catatan yang ada dengan jumlah yang ril ada kemungkinan besar perbedaan. Kalau dilihat dari catatan kita per Minggu lalu, masyarakat WNi yang lapor diri ke kita.

Jumlahnya 1.907 per tanggal 21. Tapi saya memperkirakan jumlah itu lebih sedikit dari yang ada berkisar 2.500-3.000. Karena sebagian mungkin belum sempat lapor. Tapi kalau dari catatan yang ada misalnya pada waktu 17 Agustus dan hari raya, itu tercermin memang sebagian besar belum lapor diri.

Mengenai diaspora Indonesia di sini ada network diaspora. Itu selalu aktif di dalam komunikasi dengan diaspora Indonesia dan selalu kerja sama dengan KBRI.

Di situ jumlahnya memang tidak mencakup seluruh diaspora. Ada eks Heiho, Romusa, memang sudah sangat sulit dicari data yang lengkap. Karena sebagian besar sudah menjadi warga negara Thailand.

Tapi setelah itu ada berbagai komunitas-komunitas berlatar belakang profesi, mahasiswa Indonesia misalnya, komunitas kesamaan agama ada, ada juga profesi, ada juga perkumpulan namanya, perkumpulan wanita-wanita Indonesia yang menikah dengan warga Thailand.

Saya memang belum sempat ketemu dengan seluruh komunitas karena adanya pandemi. Saya baru tiba akhir tahun lalu, dan masuk KBRI 11 Januari.

Kemudian setelah itu pandemi sangat ketat diberlakukan karena ada gelombang ketiga di Thailand. Bangkok masuk zona merah karena jumlah keterpaparan meningkat pada April dan Mei sebagai gelombang ketiga.

Saya baru sempat bertemu dengan beberapa komunitas kalau ada relaksasi saya akan melanjutkan untuk pertemuan dengan seluruh stakeholders termasuk diaspora dan warga Indonesia yang sudah lama menjadi WN Thailand. (tribun network/denis destryawan)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved