Gerhana Matahari Total dan Tuntunan Beribadah

Shalat juga menjadi peneguh tauhid bagi seorang Muslim, agar tidak terpengaruh oleh paham-paham sesat yang menuhankan matahari, bulan, atau sejenisnya

Editor: aminuddin
Gerhana Matahari Total dan Tuntunan Beribadah
serambi Indonesia
M. Anzaikhan, S.Fil.I., M. Ag, Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Langsa  dan Founder Pemantik (Pusat Entrepreneur dan Menulis)

Sekitar 20 abad silam, orang Cina menganggap gerhana terjadi karena ada naga kasap mata yang sedang menelan matahari.

Agar matahari tidak hilang, maka raja menyuruh rakyat untuk memukul genderang, serta memintakan prajuritnya untuk menembakkan panah ke langit.

Ritual itu dilakukan untuk mengusir naga dan menyelamatkan matahari.

Di India, masyarakat klasik berfikir bahwa gerhana terjadi karena ada ular besar yang hendak memakan bulan.

Pemikiran itu yang kemudian menghadirkan budaya mandi gerhana. Ini adalah ritual masyarakat India yang sengaja merendam diri di kolam hingga meninggalkan kepala di atas air.

Hal itu dilakukan sebagai dukungan terhadap bulan agar dapat bertahan.

Mitos gerhana juga pernah terjadi di Jepang.

Segelintir masyarakatnya masih percaya bahwa gerhana menyebabkan matahari mengeluarkan racun yang menghujani bumi.

Sebagai bentuk antisipasi, masyarakat Jepang akan menutup pusat mata air, sumur, dan air lainnya agar tidak terkontaminasi dengan racun.

Indonesia juga tidak ketinggalan, pada kalangan Jawa tradisional, masih ada yang mempercayai bahwa gerhana terjadi akibat ulah Buto (raksasa) yang hendak memakan matahari.

Agar itu tidak terjadi, masyarakat Jawa masa itu melakukan ritual kentongan untuk mengusir Buto, yaitu membunyikan berbagai alat yang menghasilkan suara seperti gendang, drum, gong, dan lain sebagainya.

Selain itu, di beberapa wilayah pelosok Indonesia lainnya, ada yang menganggap bahwa gerhana berbahaya bagi perempuan yang sedang hamil.

Maka dari itu, mereka menyuruh ibu hamil untuk bersembunyi di bawah meja atau di bawah tempat tidur.

Persembunyian itu dilakukan agar bayi yang dilahir tidak cacat, tidak merah sebelah, atau bahkan tidak meninggal ketika dilahirkan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved