Wawancara Eksklusif

Cerita Dunadi, Pembuat Patung Bung Karno (1): Ada Angka-angka 'Keramat' di Balik Patung

Namun sebelum membuat monumen Bung Karno, kata dia, sempat mengalami hal-hal gaib meski hal itu diabaikannya.

Editor: Soegeng Haryadi
TRIBUNNEWS
Dunadi dan patung Bung Karno yang dibuatnya. 

Dari situ saya tergugah. Walau saya sebagai seniman harus memikirkan bagaimana menciptakan lapangan kerja dan bagaimana menghidupi diri sendiri.

Makanya saya juga menciptakan proyek juga karya pribadi atau karya masterpiece. Saya sering pameran produk, kalau pameran masterpiece saya ikut di Galeri Nasional.

Asosiasi Pematung kebetulan saya Sekjen. Dari situ saya menangani proyek pemerintah, individu, menangani museum-museum. Sampai sekarang itu lah kelanjutan dari profesinya.

Apa patung yang pertama kali dibuat dan paling berkesan?
Patung yang dibuat pertama kali itu banyak. Yang paling berkesan itu setelah lulus dari universitas, saya membuat monumen Ahmad Yani yang di Purworejo. Itu sangat berkesan sekali.

Saya tertarik karena Purworejo ada tokoh nasional Pak Ahmad Yani, tapi kenapa di Purworejo tidak ada monumennya.

Saya waktu itu masih muda. Saya punya ide lalu sowan ke Pak Bupati. Saya lulus dari ASRI, ini di Purworejo ada tokoh nasional kok tidak ada patungnya. Diterima baik, ide bagus. Itu pertama kali saya menciptakan patung yang besar itu. Itu patung empat meter. Dari situ saya berpengalaman. Akhirnya saya mendatangkan keluarga Pak Yani.

Untuk melakukan riset. Karena saya kan' hanya medium. Dulu Pak Yani bagaimana karakternya, sikapnya, badannya seperti apa, itu keluarga yang memberi masukan. Kalau udah di ACC dari pihak keluarga baru kita bikin berita acara kalau ini sudah selesai model. Baru proses cetak.

Jadi dari modeling itu ada pembenahan kurang apa, proporsi kurang pas kita perbaiki. Itu sangat berkesan sekali. Proses patung itu tergantung besar dan kecilnya.

Kedua dari bahannya apa. Kalau tembaga agak lama. Kemudian proses yang agak lama sebenarnya proses modeling. Menentukan dana patung itu dari modeling itu.Karena step by step dari proses perencanaan bagaimana baiknya kita menentukan besar kecilnya, jarak pandangnya, konstruksinya bagaimana, geraknya bagaimana.

Setelah disetujui owner baru kita bikin maket, misal 30 cm, kita skala kebutuhan kita bisa dijadikan 6 meter. Dari skala itu kita besarkan dari insting saja. Kalau di studio bisa dilihat proses-prosesnya. Dari situ sebenarnya penjiwaan kita, talenta kita, kita curahkan di situ.

Komposisi Bung Karno misalnya itu ideal sekali. Banyak orang bikin patung Bung Karno banyak persis, pakai peci, pakaiannya khas. Tapi dari segi karakternya belum tentu.

Itu yang sulit, belum bicara geraknya, ekspresinya, perlu penjiwaan, perlu istilahnya ya kalau talentanya kuat, terwujud saja. Cuma isinya kan' belum tentu.

Bagaimana awalnya Anda bisa diminta untuk membuat patung Bung Karno di Lemhannas?
Prosesnya itu, saya dapat pekerjaan dari FX Rudy Wali Kota Solo. Mau bikin patung yang diletakan di Manahan. Beliau bikin patung, "Pak tolong saya dibikinkan patung yang kayak di Blitar,". Saya kaget juga, di Blitar itu kan' karyanya orang lain. Pak Rudy bilang, "Tidak apa-apa ini kan' perintah dari PDI. Saya kan' pecinta Bung Karno,".

Kalau saya rubah gini gimana pak biar tidak sama seperti di Blitar, tapi katanya harus sama dan kalau bisa lebih baik. Ya sudah saya bikin tapi lebih besar jadi 3 meter.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved