Breaking News:

Antisipasi Penyebaran Covid-19 di Sekolah, Tiga Kecamatan di Banyuasin Batal Belajar Tatap Muka

Tiga kecamatan Talang Kelapa, Rambutan dan Banyuasin 1 yang tidak melaksanakan belajar tatap muka karena letaknya berbatasan langsung dengan Palembang

Editor: adi kurniawan
Tribunsumsel.com/Ardi
Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin Aminudin, saat dibincangi awak media di ruangannya, Senin (24/5/2021). 

SRIPOKU.COM, BANYUASIN - Dalam waktu dekat Dinas Pendidikan Banyuasin akan melaksanakan sekolah tatap muka atau proses belajar mengajar secara langsung.

Hal ini, bertujuan agar bisa efektif memberikan pembelajaran kepada siswa khususnya untuk tingkat sekolah dasar.

Dari sekian banyak sekolah di Banyuasin yang akan melaksanakan sekolah tatap muka, hanya ada tiga kecamatan yang tidak akan melaksanakan.

Sehingga, di tiga kecamatan ini akan tetap melaksanakan proses belajar mengajar jarak jauh atau daring.

Hal ini, sebagai langkah antisipasi agar di sekolah tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Baca juga: Banyak Kasus OTG Covid-19 tak Terdeteksi, Satgas Minta Pemprov Sumsel Tes Acak di Mal-Tempat Wisata

Baca juga: Pembatasan Jam Operasional Mal dan Kafe, Bikin Serapan Pajak Restoran Kota Palembang Merosot

"Tiga kecamatan yakni Talang Kelapa, Rambutan dan Banyuasin 1 yang tidak melaksanakan belajar tatap muka karena letaknya berbatasan langsung dengan Palembang yang saat ini dalam kondisi zona merah."

"Bila dilakukan belajat tatap muka, maka bisa timbulnya klaster di sekolah," ujar Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin Aminudin ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/5/2021).

Lanjutnya, belajar tatap muka bisa dilakukan untuk zona oranye.

Karena, sebelumnya sudah dilakukan uji coba sekolah tatap muka dengan sistem ganjil genap di absen siswa.

Sejak bulan September sampai Desember lalu, sudah dilaksanakan tatap muka untuk sekolah yang wilayahnya masuk zona oranye.

Dengan menggunakan sistem genap ganjil untuk sekolah tatap muka, memang dianggap belum efektif dalam proses belajar mengajar. 

Sehingga, kepala sekolah diminta untuk memberikan jam tambahan atau membentuk kelompok belajar bagi siswa yang tinggal di seputaran sekolah.

Diharapkan, dengan adanya jam tambahan atau dibentuknya kelompok belajar dapat secara efektif memberikan pembelajaran kepada siswa.

"Untuk kelas 1 dan kelas 2 SD, memang banyak yang belum bisa membaca secara lancar. Dari itulah, kami minta kepada kepala sekolah harus ada inovasi dari kepala sekolah dan juga pendampingan orangtua."

"Terlebih, sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil sehingga siswanya khususnya kelas 1 dan 2 bisa di bimbing untuk belajar membaca dan berhitung," pungkasnya. (TS/Ardi)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved