Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Mewaspadai Tsunami Covid-19 India di Indonesia (2-Habis): Perlakuan Harus Beda

Jangan menakut-nakuti masyarakat dengan kejadian India, itu mudah dipatahkan.

Penulis: Odi Aria Saputra | Editor: Soegeng Haryadi
SCREENSHOT FACEBOOK
Ahli Mikrobiologi Sumsel, Prof Dr dr Yuwono MBiomed memberikan penjelasan mengenai Tsunami Covid-19 di India kepada Kepala Newsroom Sripo - Tribun Sumsel Weny Ramdiastuti (membelakangi kamera). 

Banyak masyarakat di Indonesia khususnya di Sumsel menyanyangkan kebijakan tentang Covid-19 yang berubah-ubah. Masyarakat pun bingung tiba-tiba di penghujung Ramadan ada larangan mudik, bahkan larangan sholat id. Namun masih banyak masyarakat yang mudik lebih awal dan tetap nekat berbelanja berkerumun jelang lebaran. Lalu, bagaimana Ahli Mikrobiologi Sumsel, Prof Yuwono melihatnya. Simak wawancara eksklusif bersama Sriwijaya Post. 

Dengan keputusan tidak boleh mudik lagi dan buka bersama. Bagaimana Anda melihatnya? 
Yang dibutuhkan itu komunikasi, kenapa kebijakan itu diberitahu di penghujung puasa mendekati lebaran. Orang-orang sudah ramai ke mall, pasar 16 Ilir itu sudah padat. Mau di stop kan sudah tidak bisa. 

Artinya ini masalah komunikasi? 
Sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa baru sekarang larangan tersebut dikeluarkan. Artinya kurang komunikasi. Jangan menakut-nakuti masyarakat dengan kejadian India, itu mudah dipatahkan. Seharusnya, kalau ingin mencegah sebaran Covid-19 itu lebih bijak kalau diberitahukan jika kita tidak mudik, sholat Id supaya penangan Covid-19 itu lebih baik. 

Apa target sebenarnya pemerintah dengan membuat kebijakan adanya larangan mudik? 
Pemerintah sebenarnya bukan tak ada mudik,  tetapi membatasi 7 persen dari 30 juta masyarakat yang hendak mudik. 

Dengan adanya batasan mudik 6-17 Mei, bagaimana Anda melihatnya? 
Ini kan agak unik, karena adanya pembatasan itu banyak orang mudik sebelum diberlakukan tanggal tersebut. Jadi ini masalah komunikasi dan penjelasan kepada masyarakat. 

Baca juga: Mewaspadai Tsunami Covid-19 India di Indonesia (1): Kita Takkan Seperti India, Tapi Jangan Terlena

Di status sosial media, Anda sering sekali tegas menulis soal Covid-19 ini. Bisa dijelaskan kenapa? 
Saya berbicara kritis ini jangan salah pahami,  tapi ini sebagian untuk menyambungkan supaya masyarakat ridho dengan keputusan pemerintah. Dan supaya pemerintah adil dalam keputusannya. 

Jadi boleh dibilang ada hal-hal yang kurang dari Diksi dan Narasi Covid-19 ini? 
Benar. Jadi setiap daerah itu beda-beda kasusnya. Seperti di Pulau Jawa terkonsentrasi 65 persen kasus. Sementara di Sumsel 1 persen dan provinsi lain juga sedikit-sedikit kasusnya. Maka jangan berpikir semuanya sama diperlakukan seperti di Pulau Jawa mestinya berbeda. 

Tapi mengapa Palembang, OKU Timur dan wilayah zona merah lainnya di Sumsel memiliki tingkat kematian tertinggi nomor 3 di Indonesia? 
Data itu dari awal semuanya konsisten. Seperti di Sumsel kematian itu di atas 4,9 persen, itu karena pembaginya rendah. Jakarta misalnya, yang meninggal 2 persen, sementara pembaginya besar. Karena itu kan persentase bukan angka mutlak. 

Sumsel kematian tertingginya 4,9 persen, tertinggi ketiga di Indonesia. Sedemekian gentingkah orang yang meninggal Covid-19 di Sumsel semu karena komorbid? 
Dari data Dinke Sumsel, orang yang  meninggal ini semuanya hampir memiliki komorbid. 

Lalu apakah dengan terapi apakah pemilik penyakit penyerta akan kebal Covid-19?
Orang komorbid ini sudah kita sering lakukan terapi.  Pertama, terapi anti virus sudah diberikan. Kedua, terapi streoit stimulan dari imun. Ketiga, terapi antibodi monokronal. Dan keempat, terapi plasma dari orang yang sudah sembuh. Kami masukkan semuanya no respon, meninggal juga. 

Kenapa dengan banyaknya terapi penderta komorbid sangat rentan meninggal karena Covid-19?
Mereka ini pada umumnya menderita gangguan pernapasan sedang. Tetapi, karena memiliki komorbid sering tak tertolong. 

Lalu, kenapa seperti India itu banyak sekali orang meninggal karena Covid- 19 selain faktor genetik? 
Kita harus bersyukur, fasilitas kesehatan kita cukup baik. India itu, tabung oksigen saja tidak tersedia dengan banyak. Maka ketika pasien sudah parah, mereka kesulitan, sehingga banyak korban meninggal.  (Oca) 

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved