Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Akhir Cerita Drug Lord dari Tangga Buntung (2-Habis): Ekonomi Sulit Pilih Jual Narkoba

Dengan pendapatan dari kuli bangunan tidak cukup, jadi saya terpaksa cari tambahan dengan berjualan narkoba. 

Editor: Soegeng Haryadi
TANGKAPAN LAYAR FACEBOOK SRIPOKU
Wawancara dengan gembong Kampung Narkoba di Tangga Buntung, Ateng dan Abdullah. 

Pada saat penggerebekan di Tangga Buntung, apa benar Anda melompat dari lantai 2?
Benar, waktu penggerebekan saya langsung loncat, lalu sembunyi ke rumah tetangga selama penggeledahan. 

Selama bersembunyi di Palembang, bagaimana cerita Anda bisa sampai ke OKU Selatan? 
Setelah merasa aman, saya lalu ke OKU Selatan menggunakan travel dengan bantuan teman. Kurang lebih 14 hari di sana. Lima hari di rumah Ito (teman,  red),  9 hari saya sembunyi di kebun. 

Setelah sembunyi cukup lama, terbayang tidak Anda bisa tertangkap? 
Saya tidak menyangka, karena saya sembunyinya dalam hutan yang sulit dijangkau orang. 

Selain memberikan uang ke anak istri, katanya Anda juga suka sedekah. Berapa jumlahnya per hari dan ke mana Anda sedekah? Tidak bisa saya ceritakan ke mana, jumlahnya juga tidak terhingga. Saya tidak mau menceritakan soal sedekah saya. 

Menjadi bandar narkoba ancamannya minimal 20 tahun penjara, bahkan hukiman mati, sudah terbayang belum dipikiran kalian? 
Ya saya sudah tahu resikonya seperti apa. Saya terima dan jalani saja hukumannya. Setelah ini saya akan bertaubat. 

Dari hasil jual narkoba Anda mampu membuat ruko, apakah benar? 
Kalau itu tanyakan ke penyidik saja. 

Apa pesan kalian untuk anak dan istri di rumah? 
Buat anak istri,  bapak sungguh menyesal. Jangan cemaskan bapak di sini, anak-anak harus tetap sekolah lanjutkan cita-cita. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved