Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Akhir Cerita Drug Lord dari Tangga Buntung (2-Habis): Ekonomi Sulit Pilih Jual Narkoba

Dengan pendapatan dari kuli bangunan tidak cukup, jadi saya terpaksa cari tambahan dengan berjualan narkoba. 

Editor: Soegeng Haryadi
TANGKAPAN LAYAR FACEBOOK SRIPOKU
Wawancara dengan gembong Kampung Narkoba di Tangga Buntung, Ateng dan Abdullah. 

Gembong narkoba di Tangga Buntung Palembang,  Ateng dan Abdullah akhirnya ditangkap. Setelah penggerebekan di Palembang,  mereka sempat bersembunyi di hutan di kawasan OKU Selatan. Apa yang mendasari dua pelaku ini menjadi bandar besar narkoba?  Simak wawanacara eksklusif Sriwijaya Post bersama bandar narkoba Ateng

Bagaimana awal mula kalian terperosok ke lembah hitam ini? 
Saya tidak ada pekerjaan, jadi terpaksa menjadi pengendar narkoba untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Pak Abdullah, sebelum mengedarkan narkoba apa pekerjaan Anda? 
Saya terkadang bekerja kuli bangunan sebagai kenek. Sejak tamat SMP saya bekerja bangunan, setelah umur 30 tahun saya tidak lagi jadi kuli bangunan. 

Kenapa Anda bisa terjebak ke dunia narkoba? 
Saya terpaksa berbisnis barang haram ini karena faktor ekonomi. Apalagi saya harus menghidupi keluarga dan tiga anak. Dengan pendapatan dari kuli bangunan tidak cukup, jadi saya terpaksa cari tambahan dengan berjualan narkoba. 

Sudah berapa lama kenal dengan narkoba dan bergelut di dalamnya? 
Kenal baru sekitar dua tahun. Jual narkoba ini saya tidak pakai modal, tetapi ada yang memberikan modal. 

Kabarnya, kalau ojol mau masuk ke kampung itu sulit. Karena kalian waspada? 
Kalau lalu lintasnya ojol tidak kami persulit, lancar-lancar saja. 

Dalam menjual barang haram ini apakah istri mengetahui? 
Saya jual tanpa sepengetahuan istri awalnya. Namun, lama-kelamaan akhirnya istri tahu. Ketika istri tahu, mau tidak mah ia menerima. Tetapi saya tidak mengajak istri dalam bisnis ini. 

Untuk saudara Ateng, istri Anda kan ikut diamankan. Bagaimana awal mulanya Anda mengajak istri untuk menjual narkoba? 
Jujur istri saya pada awalnya menolak, dia melarang keras. Tetapi karena faktor ekonomi, terpaksa kami menjual barang haram ini. 

Selain istri, apakah orangtua tahu Anda berjualan narkoba? 
Orangtua saya tahu, saya juga terpaksa memberikan uang dari hasil ini karena memang faktor saya kesulitan ekonomi. 

Jual narkoba ini kan uangnya tidak berkat, bagaimana Ateng melihatnya? 
Ya kami sangat menyesal. Apalagi menafkahi dan menyekolahkan anak lewat uang narkoba ini. 

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved