Ramadhan

30 Hari Ramadhan Rahmat & Ampunan

Bulan Ramadhan itu terbagi tiga ”Permulaan Bulan Ramadhan a­dalah rahmat, pertengahannya ampunan, sedang akhirnya a­dalah pembebas dari api neraka

Editor: Salman Rasyidin
30 Hari Ramadhan Rahmat & Ampunan
ist
Dra. Hj. Sumiati, M.Pd.I

Siapa saja yang meringankan beban hamba sahaya (seperti pekerja kasar dan atau pem-bantu rumah tangga) pada bulan ini, niscaya Allah mengampuni dosanya dan mem­bebaskannya dari api netaka.

Karena itu perbanyaklah empat hal dalam Ramadhan, yaitu dua hal yang dapat menye­nangkan Tuhanmu, dan dua hal yang amat kalian perlukan.

A­dapun dua hal yang dapat menyenangkan Tuhanmu ialah (pe­ngakuan kalian dengan sepenuh hati), bahwa "tiada Tuhan se­lain Alloh" serta permohonan ampun mu kepada-Nya.

Se­da­ngkan dua perkara yang amat kalian perlukan yaitu memohon surga dan berlindung dari neraka. Dan siapa saja yang mem­beri minum orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi mi­num padanya dari air kolamku,yaitu minuman pelepas dahaga, sampai ia masuk kedalam surga". (HR. Ibnu Khuzaimah)

Demikian Redaksi lengkap hadits ini.

Ada hal yang menarik da­lam proses periwayatannya.

Sekalipun hadits ini tercantum da­lam kitab shahih ibnu Khuzaimah beliau sendiri nampak me­ra­gukan kualitas hadits tersebut.

Beliau beri satu catatan sebelum meriwayatkan hadits ini bahwa: "ini adalah bab tentang aneka keutamaan Ramadhan bila hadits ini shahih".

Nampak terang dari ungkapan beliau bahwa ada keraguan dalam kualitas hadits tersebut.

Keraguan ibnu Khuzaimah ini agaknya terjawab melalui pe­ne­litian yang dilakukan para kritikus hadits.

Mereka menemukan bah­wa dalam rangkaian sanad hadits ini terdapat satu rawi ber­nama Ali bin Zaid bin Jud'an yang dinilai amat dhoif.

Imam ad-Dzahabi menguraikan penilaian para pakar terkait sosok yang sa­tu ini. Beliau menulis dalam Mizanul l'tidal bahwa imam Ah­mad dan Syu'bah mendhoifkan Ali bin Zaid bin Jud'an.

Imam Hammad bin Zaid menyebutnya sebagai sosok yang suka membolak-balik hadits.

Sementara Utsman bin Said menukil ko­men­tar imam Yahyas laisa bi syai, tak bernilai.

Yazid bin Zurai' bah­kan menuduhnya sebagai rofidhoh, sekte syiah yang keras itu.

Imam al-Bukhari dan Abu Hatim rnelengkapi penilaian para pa­kar ini dengan ,ungkapun", La yuhtajju bihi, (tidak dapat di­jadikan hujjah atau sandaran dalil dalam agama) Penilaian para pakar dan kritikus hadits di atas kiranya cukup menegaskan ke­le­mahan hadits ini' Saking lemahnya, hadits tersebut tidak dapat di­jadikan dalil dalam agama.

Demikian kutipan dari buku “Pedoman Praktis Ilmu Hadits” Dr. H.Adi Hidayat, Lc.,MA.

Mungkin karena buku itu baru terbit tahun 2016 artinya baru ± 5 tahun buku itu beredar, maka mungkin hal ini belum banyak or­ang yang paham dengan hadits dho’if itu.

Apalagi tidak membeli bukunya, sehingga masih banyak para da’i, muballigh, kiai, juru da’wah, ustaz yang sering mengungkap hadits dho’if itu.

Mung­kin maksudnya untuk “Fadhoo’ilul a’mal” (untuk me-nambah, meng­galakkan amal).

Bagi yang mau beramal dengan hadits dho­’if boleh-boleh saja, tapi ada sebagian orang yang tidak mau meng­amalkan hadits dho’if.

Dan hadits dho’if tidak bisa dija­dikan dalil, apalagi untuk ber-debat (berhujjah).

Lewat tulisan ini penulis menyarankan kepada teman-temanku para da’i/da’iyah kiranya dapat memahami.

Hadits itu, dan se­dikit demi sedikit tidak lagi menyampaikan hadits palsu itu ke­pada jama’ah kita.

Ada baiknya kita melakukan pencerdasan jama’ah, menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Karena sebenar-nya “Rohmat, Maghfiroh dan Itqun mi­nannar” itu mulai dari awal Ramadhan hingga akhir Ramadhan, tidak dibagi 10 x 3 seperti anggapan orang selama ini.

Wallahu a’lam. Mohon ma’af lahir dan bathin.

Sumber:
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved