Breaking News:

Kecurangan Dalam Bisnis

Jadikan Puasa  Pencegah Kecurangan Dalam Bisnis

Ibadah puasa yang kita jalankan pada tahun ini berbeda dengan tahun lalu.

Editor: Salman Rasyidin
Jadikan Puasa  Pencegah Kecurangan Dalam Bisnis
ist
Amidi

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menjelang Bulan Ramadhan masyarakat mulai mempersiapkan segala sesuatunya terlebih kebutuhan bahan pokok (samba­ko).

Se­ba­gai­mana kebiasaan tahun-tahun lalu, dikalangan masyarakat kita dalam me­nyambut da­tangnya Bulan Ramadhan tersebut berlomba-lomba akan melakukan per­mintaan ter­ha­dap sembako yang akan mendorong permintaan terhadap kebu­tuh­an sembako terse­but meningkat. Pada akhirnya mendorong harga-harga sem­bako tersebut mening­kat.

Misalnya harga gaging ayam potong saja. Sebelum datangnya Bulan Ramadhan har­ga daging ayam potong hanya berkisar antara Rp. 30.000,- sampai Rp. 33.000,- per kg, sa­­at menjelang masuknya Bulan Ramadhan harga daging ayam potong tersebut meni­ng­kat (naik) menjadi Rp. 37.000,- sampai Rp. 40.000,- per kg, begitu juga juga dengan yang lain akan ikut naik juga sebagaimana pengalaman tahun-tahun sebe­lum­nya.

Ke­naikan harga-harga barang tersebut biasanya terus “meroket” sampai men­jelang Hari Raya Idul Fitri.

Fenomena kenaikan harga sembako dan barang-barang lain yang dibutuhkan ma­sya­ra­kat dalam menyambut datangnya Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri tersebut su­dah merupakan fenomena biasa alias sudah menjadi tradisi.

Jika kita tilik le­bih jauh lagi, fenomena ini timbul disebabkan karena dua faktor yakni faktor eko­nomi dan faktor non e­konomi.

Faktor ekonomi, karena kebutuhan masyarakat akan sembako dan barang-barang lain yang menyertainya tersebut memang mengalami peningkatan mulai masuknya Bulan Ramadhan sampai menjalang Hari Raya Idul Fitri nanti.

Sebagimana meka­nis­me pasar, dengan adanya peningkatan permintaan tersebut, mendorong harga-harga akan naik.

Faktor non ekonomi yakni adanya tradisi yang sudah mengakar dimasyarakat kita dalam melakukan hal-hal tersebut ditambah adanya aspek psikologis yang menyer­tai­nya, dimana ada rasa tidak “seret” dan ada rasa “mengganjal”.

Jika dalam men­ja­lankan ibadah puasa tersebut tidak menyiapkan makan ini dan makanan itu ter­ka­dang dalam ka­pasitas yang berlebihan pula, ditambah kebiasaan “serba baru”.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved