Breaking News:

Jabatan Presiden

Menyoal Periode Ideal Jabatan Presiden

Diskursus masa jabatan presiden (presidential term) kembali mengemuka seiring wa­ca­na perdebatan skema politik 2024 yang kian memanas.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Prasetyo Nugraha SH MHI 

Begitupun amanden konstitusi yang terjadi di Turki, secara radikal merombak tatanan pe­merintahan yang ada, dari sistem parlementer ke sistem presidensiil.

Pergantian sis­tem negara yang dipimpin oleh Recep Tayyib Erdogan tersebut sejak tahun 2019 mu­lai menganut sistem presidential term, dengan masa jabatannya diperpanjang selama li­ma tahun. 

Sehingga diprediksi Erdogan dapat menjabat kembali sampai kedua pe­riode mendatang.

Namun apabila sampel dua negara diatas dijadikan iktibar, pertanyaan yang muncul a­da­lah apakah barometer Indonesia harus menyontoh negara-negara dimaksud.

Karena, ji­ka dikaitkan dengan perkembangan indek demokrasi di dunia, Mesir dan Turki per­kem­bangannya tentu masih jauh di bawah Indonesia dan bahkan Indonesia pernah me­nempati posisi teratas untuk negara muslim yang menganut sistem demokrasi.

Di tahun 2019 saja Indonesia telah melesat jauh ke level 6 digit, berbarengan dengan Ja­maika, India, Brasil, dsb.

Sedangkan negara Turki berada dikisaran 4 digit dengan ber­ada diurutan ke-110 dan negara Mesir dikisaran 3 digit dengan posisi urut ke-137 da­ri total 167 negara seluruh dunia.

Tidak terlalu banyak negara-negara dunia yang menerapkan presidential term di da­lam sistem kenegaraanya sampai dengan tiga periode.

Di kawasan Asia cuma ada ne­gara Vietnam dan di benua Oseania terdapat Negara Kiribati. artinya memang refrensi untuk melakukan studi perbandingan masih sangat belum memadai.

Apalagi kedua ne­gara terakhir indek demokrasi dunia juga menempatkan Indonenesia jauh meng­ungguli negara-negara tersebut.

Membangun fondasi ideal

Untuk masa dan periode yang ideal tentu tergantung posisi kita memandanganya, na­mun paling tidak demokrasi menjadi tolok ukur dalam mengatur posisi agar ke­jer­nihan pandangan dilahirkan sehingga dapat menjadi konsensus bersama dalam meng­apai cita-cita bersama.

Selain sistem pembatasan yang sudah kita anut selama dua dekade ini, contoh sistem satu periode juga mewarnai banyak presidential term di banyak negara di dunia.

Se­lain itu, ada juga masa jabatannya selama 6-7 tahun serta dapat dipilih kembali satu kali/berkali kali dengan berselang periode untuk jabatan yang sama.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved