Breaking News:

Bank BPR Sumsel Target Turunkan Kredit Macet Tahun Ini Jadi 5 Persen, Sehat Dan Terus Berinovasi

Direktur Utama BPR Palembang, Marzuki mengatakan hingga Maret 2021, kredit macet BPR berada diangka 18,8 persen. 

Editor: Azwir Ahmad
ho/sripoku.com
Guberur Sumsel Herman deru saat menghadiri rapat umum pemegang saham RUPS) Bank BPR Palembang, Senin (12/4/2021). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sumsel memasang target angka non performing loan (NPL) atau kredit macet tahun 2021 ini turun menjadi lima persen.

Direktur Utama BPR Sumsel, Marzuki mengatakan hingga Maret 2021, kredit macet BPR berada di angka 15,8 persen. 

"Pencapaian ini jauh lebih baik saat baru bergabung di BPR dulu 65 persen tahun 2018 lalu dan akan terus dikejar agar terus turun hingga di bawah 5 persen sehingga semakin sehat dan banyak inovasi yang akan dilakukan," ujar Marzuki di sela Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BPR Sumsel, Senin (12/4/2021).

Marzuki mengatakan beragam inovasi yang akan dilakukan BPR yakni melakukan ekspansi bisnis ke produk baru, meningkatkan penyaluran pembiayaan kredit untuk usaha sektor kecil hingga digitalisasi perbankan. Namun semua itu baru akan dilakukan jika target NPL bisa di bawah 5 persen.

Tahun 2020 lalu, BPR berhasil membukukan pertumbuhan kredit 6,5 persen dan menekan kredit macet dari 24,5 persen menjadi 15 persen. 

Marzuki mengatakan kredit macet didominasi sektor konstruksi tapi saat ini kredit macet di sektor pembiyaan multiguna pada ASN dan pegawai BUMD. 

"Alhamdulilah masih membukukan laba tahun ini namun ada penurunan pendapatan karena dampak pandemi bank harus merestrukturisasi kredit pada 77 nasabah senilai Rp 27 miliar," ujar Marzuki.

Pandemi ini bukan cuma berdampak negatif tapi juga ada dampak positifnya karena sejumlah bank mikro yang dulu menyalurkan pembiyaan mikro namun berubah haluan dan segmen karena dampak pandemi sehingga membuka peluang besar bagi BPR menyalurkan pembiayaan namun tetap dengan prinsip kehati-hatian.

Terkait instruksi pemegang saham yang meminta agar debitur "nakal" yang bertahun-tahun lalu meminjam dana pada BPR namun hingga kini belum bayar harus terus ditagih dan jika tidak ada solusi lagi bisa menempuh jalur hukum.

Marzuki mengatakan hingga kini kredit macet yang masih ada saat ini senilai Rp 21 miliar dengan masa pembiayaan lebih dari tiga tahun.

Marzuki mengatakan awalnya akan mengedepankan solusi kekeluargaan pada debitur kredit macet ini, jika jalan kekeluargaan tidak bisa ditempuh maka akan dilelang jaminannya.

Tapi jika solusi itu jga tidak berhasil maka terpaksa jalur hukum akan ditempuh sebagai jalur terakhir karena penyertaan modal BPR dari pemerintah daerah jadi uangnya harus dikembalikan lagi oleh sebab itu debitur kredit macet akan terus ditagih.

"Sudah ada beberapa debitur macet yang sudah kita bawa ke jalur hukum dan menang, dan akan terus ditagih agar BPR sehat dan berharap pemegang saham bisa menambah penyertaan modal agar semakin besar BPR dan ekspansi lebih luas," tutup Marzuki.

Sementara itu Pemegang Saham BPR Sumsel, Herman Deru menegaskan agar debitur yang belum melunasi kewajibannya agar bisa seger melunasinya karena sudah lebih dari tiga tahun.

"Bank ini (BPR) sudah menuju sehat wal Afiat jadi kalau tidak bayar dan bisa masuk ranah pidana perbankan," ujar Herman Deru.

Catatan Redaksi:

Berita ini telah mengalami pembaharuan karena terjadi kesalahan pada judul. Sebelumnya di judul tertulis BPR Palembang. Redaksi mohon maaf atas kesalahan tersebut. Dengan pembaharuan ini kesalahan telah kami perbaiki.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved