Breaking News:

Produksi Beras Berjaya Tak Jamin Petani  Sejahtera

Wacana impor satu juta ton beras menjadi buah bibir dimana-mana saat ini. Wacana tersebut di­ang­gap sebagai pemicu anjloknya harga gabah dan beras.

Editor: Salman Rasyidin
Produksi Beras Berjaya Tak Jamin Petani  Sejahtera
ist
Rillando Maranansha Noor, SE

Pendapatan petani tak hanya tergantung dari hasil produksinya saja, tetapi juga dipe­ngaruhi harga jual dari produk pertanian yang mereka hasilkan.

Harga tinggi tapi produksi ren­dah tentu rupiah yang didapat tidak akan optimal. Begitu pula sebaliknya, produksi tinggi namun har­ga anjlok, hasilnya juga jauh dari yang diharapkan. Idealnya harga baik, produksi pun baik.

Bila itu yang terjadi, maka kesejahteraan petani lebih dapat terjamin.

Bicara kesejahteraan petani, bila ditilik dari angka kemiskinan, maka didapatkan fakta bahwa ke­mis­kinan yang terjadi di wilayah perdesaan pun banyak disumbang oleh kaum tani.

Miris me­mang, si penyumbang kebanggaan dan penghargaan terkait produksi padi ini ternyata juga se­bagai penyumbang angka kemiskinan yang cukup signifikan.

Ketenaran Sumatera Selatan atau pun kabupaten seperti Banyuasin, Ogan Komering Ulu Timur, dan Ogan Komering Ilir sebagai lum­bung pangan atau produsen padi maupun beras seharusnya membuat para petani turut me­nepuk dada.

Namun faktanya, kondisi harga gabah dan beras terkini memaksa mereka mengelus dada.

Ironi ini kerapkali terjadi menimpa nasib petani.

Bicara kesejahteraan petani tentu memerlukan alat ukur tersendiri.

Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan salah satu produk andalan BPS adalah indikator yang dapat mengukur tingkat ke­sejahteraan petani.

Secara sederhana NTP dapat diartikan sebagai daya beli petani. Indeks NTP sendiri merupakan perbandingan dari harga yang diterima petani dengan harga yang diba­yar petani.

Semakin tinggi NTP maka semakin tinggi pula kemampuan atau daya beli petani.

O­rang yang dikategorikan sejahtera tentu yang mempunyai daya beli yang cukup, bahkan tinggi.

Ba­gaimana mungkin seseorang dikatakan sejahtera ketika daya belinya rendah.

Untuk Sumatera Selatan sendiri, berdasarkan angka yang dirilis BPS, didapatkan angka NTP bu­lan Februari 2021 adalah sebesar 102,03.

Sedangkan pada bulan sebelumnya, yaitu Januari 2021 a­dalah sebesar 100,01.

Pada tahun sebelumnya, tepatnya Desember 2020, NTP di Sumatera Se­latan adalah sebesar 101,83.

Tren-nya masih naik turun, karena NTP sejatinya memang ber­fluk­tuasi setiap bulan.

Bila dilihat dari NTP 3 bulan terakhir yang selalu di atas 100, maka dapat di­katakan daya beli petani Sumatera Selatan cukup baik.

Setidaknya nilai yang diterima petani le­bih besar dibandingkan nilai yang dibayarkannya.

Namun mengingat kembali fenomena “nyungsep”nya harga gabah dan beras yang terjadi saat ini, ditambah meroketnya harga beberapa komoditi yang biasa dikonsumsi petani seperti cabai, har­ga rokok yang meningkat seiring perubahan cukai rokok yang berlaku, serta berakhirnya pro­gram listrik gratis yang sempat diberlakukan pemerintah terkait masa pandemi, akankah NTP ber­fluktuasi dibawah 100 pada bulan selanjutnya?

Kestabilan harga produk hasil pertanian menjadi kata kunci dalam menjaga daya beli atau NTP ini.

Disamping itu stabilitas harga barang diluar sektor pertanian juga perlu dijaga, seperti harga ba­rang kebutuhan rumah tangga yang dikonsumsi si petani serta barang penunjang produksi per­ta­nian yang turut mempengaruhi kuat atau lemahnya nilai tukar petani.

Penetapan harga dasar produk pertanian seperti gabah sangat dibutuhkan dengan mempertimbangkan atau menye­su­aikannya dengan pergerakan harga barang konsumsi, agar efektif dalam menjaga harga gabah di tingkat petani.

Sebenarnya kebijakan jaminan harga telah dilakukan oleh pemerintah melalui HPP, namun fakta di lapangan seringkali harga yang diterima petani dibawah HPP yang berlaku.

Tak seluruh hasil panen petani mampu diserap pemerintah melalui BULOG.

Pasokan beras di gedung Bulog Kabupaten Ogan Komering Ilir saat ini mencapai 1.500 ton yang cukup memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah, Minggu (28/3/2021).
Pasokan beras di gedung Bulog Kabupaten Ogan Komering Ilir saat ini mencapai 1.500 ton yang cukup memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah, Minggu (28/3/2021). (TRIBUNSUMSEL.COM/)

BULOG pun tentu tak gegabah dalam menyerap gabah dari petani, selain mereka punya ku­alifikasi tertentu yang ha­rus dipenuhi, gabah tersebut juga harus jelas pendistribusian kede­pannya.

Fenomena harga gabah dan beras ini harus mendapat atensi lebih dari pihak yang memiliki kewenangan.

Jaminan harga sesuai HPP tentu akan meringankan beban petani yang telah dipu­singkan oleh kelangkaan pupuk yang sempat terjadi serta serangan Organisme Pengganggu Ta­na­man (OPT) yang cukup meresahkan mereka.

Namun petani pun harus mampu meningkatkan ku­alitas produk pertaniannya agar memenuhi kualifikasi produk yang dapat diserap dengan harga se­suai HPP.

Petani harus merubah mindset-nya, jangan hanya mengejar kuantitas produksi, namun juga harus memperhatikan kualitasnya.

Produksi tinggi yang mereka hasilkan tak men­ja­min kesejahteraan mereka, terutama bila harga produk pertaniannya mengalami penurunan ta­jam.

Produksi tinggi hanya menjadi prestasi tanpa dapat memenuhi periuk nasi sesuai ekspektasi.

Ek­sistensi petani seharusnya tak hanya dilihat dari produksi yang dihasilkan, namun juga dari da­ya belinya.

Dengan kata lain eksistensi petani seharusnya tak hanya sebagai produsen, namun juga sebagai konsumen.

Apresiasi terhadap petani yang gagah dalam berproduksi selayaknya de­ngan upaya menjadikan mereka menjadi petani yang berdaya beli tinggi.*

           

           

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved