Breaking News:

3 Warga Jambi Tewas Mengenaskan Terjebak di 'Lubang Jarum' Tambang Emas Ilegal Sedalam 40 Meter

Proses evakuasi ketiga korban cukup sulit. Sebelumnya, 40 orang warga harus bahu-membahu mengeringkan air dalam lubang yang mirip sumur tersebut.

Tribun Jambi/Darwin Sijabat
Evakuasi warga Merangin yang terjebak di lubang jarum tambang emas ilegal di Desa Simpang Parit, Kecamatan Renah Pembarap, Jambi, Selasa (30/3/2021). 

Dalam catatan Tribun, yang bekerja di tambang ilegal ini bukan hanya warga lokal, tapi juga dari luar provinsi dan luar Sumatera.

Upaya mencari emas dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang tradisional yakni mendulang di sungai, rakit dompeng, dan tambang lubang jarum.

Belakangan ini mulai marak penggunaan alat-alat berat untuk bisa menghasilkan emas sebanyak-banyaknya.

Korban jiwa paling banyak yang bekerja di lubang jarum dan juga tambang emas menggunakan alat berat.

Serta Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Mereka yang tewas dalam aktivitas PETI ini umumnya adalah karena tertimbun atas galian yang mereka buat sendiri.

Lalu bagaimana metode penambangan emas di lubang jarum?

Kisah bertaruh nyawa di PETI lubang jarum ini pernah dihadirkan Tribun dalam artikel yang terbit pada September 2018.

Saat itu tambang emas ilegal tersebar di berbagai kecamatan di Merangin, dan juga hingga tahun 2021 ini.

PETI model lubang jarum ini konon lebih banyak di Kecamatan Renah Pembarap.

Kabanyakan, tambang emas itu jauh dari permukiman warga, perlu tenaga ekstra untuk sampai ke sana.

Fadli, warga Merangin yang pernah menggeluti dunia tambang emas di wilayah Renah Pembarap, mengungkap cerita bertaruh nyawa di lubang jarum.

Dia menceritakan, lubang jarum merupakan istilah untuk tambang emas yang dilakukan dengan menggali sangat dalam seperti membuat sumur.

Kedalaman tanah yang digali bisa puluhan meter secara vertikal.

Sementara secara total yang digali bisa lebih 100 meter, karena di dalam bisa saja dibuat galian horizontal.

ilustrasi
Update 30 Maret 2021. (https://covid19.go.id/)

Dia mengatakan tidak mengenal istilah siang atau malam dalam bekerja di lubang jarum, sebab selalu saja ada aktivitas di sana.

Ada pekerja yang menggali pada siang, ada juga yang kerja pada malam, sehingga proses produksi berjalan 24 jam penuh.

"Pekerja di satu tambang lubang jarum itu minimal lima orang. Jarak tambang satu dengan yang lain tak terlalu jauh," katanya.

Mereka memiliki pembagian waktu kerja baik jam istirahat maupun jadwal ganti posisi.

Untuk jam istirahat biasanya dilakukan dua jam sekali atau lebih.

Sebab jika terus-terusan menggali, dikhawatirkan pekerja yang sedang mengikis lubang pakai linggis bisa kekurangan oksigen.

Pasokan udara di dalam sangat sedikit karena lubang yang umumnya hanya diameter satu meter bahkan semakin ke bawah semakin sempit.

Tentang pola kerja, ada yang mengikis, ada yang mengemas material yang dikikis, ada juga yang mengantarkan ke lokasi dasar.

Selain itu ada yang bekerja untuk menderek hasil kikisan tebing yang sering disebut napal itu kepermukaan tambang.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sriwijayapost di bawah ini:

"Jadi masing-masing pekerja itu punya tugas masing-masing," katanya lagi.

Mantan penambang lainnya, RK, menyebut pekerjaan ini menghasilkan pendapatan yang luar biasa.

Untuk melakukannya tak perlu pendidikan khusus, hanya dibutuhkan nyali yang besar.

"Lubang itu punya kedalaman puluhan meter. Jadi memang orang yang punya nyali besar yang bisa kerja disana," kata RK.

Dia dulunya tak hanya sebagai pekerja, tapi juga sebagai pemodal untuk beberapa tambang.

Setelah hampir satu tahun menggeluti tambang emas ilegal ini, dia memutuskan untuk berhenti.

Dia mencari pekerjaan lain yang halal dan tak mempunyai risiko besar.

"Saya berhenti karena saya pernah masuk ke dalam lubang dan ikut bekerja.," ungkap RK.

Setelah dia tahu bagaimana kondisi di dalam, dia memutuskan untuk berhenti bisnis ini.

"Saya tidak mau ada korban jiwa dengan bisnis ini," ungkapnya.

Dia bilang, bila melihat lihat hasil, sebenarnya tidak ingin setop dari bisnis tambang emas.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Namun karena faktor risiko besar, ia mencari bisnis lain.

"Saya punya keluarga, anak-anak masih kecil. Pekerja saya juga punya keluarga. Jadi daripada saya menyesal, lebih baik saya hentikan bisnis ini," sambungnya.

Lagi-lagi, dia bercerita tentang kondisi di dalam lobang tambang. Katanya, lubang tersebut memang benar-benar lubang.

Ukuran yang paling besar itu hanya di mulut tambang saja yaitu sekitar satu setengah hingga dua meter.

Namun ketika beberapa meter ke bawah, lobang sangat kecil, apalagi setelah sampai di dasar lubang.

Di dasar lubang terdapat beberapa lubang lagi, ukuran lubang hanya bisa jongkok atau menunduk.

Lebar hanya bisa untuk berpapasan dengan teman lain ketika ganti tugas atau shif.

Mereka menggunakan penerangan berupa senter kening dan lampu dari listrik gengset dari atas.

Di dalam lubang itu, emas di dasar tebing terlihat berkilau.

"Kita bisa lihat kemana jalur emas itu. Saking asyik itu kadang jadi lupa waktu. Pekerjaan ini menantang maut," imbuhnya. (Tribunjambi.com/ Darwin Sijabat)

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul DETIK-DETIK Evakuasi 3 Warga Merangin yang Terjebak di PETI Lubang Jarum, Korban Meninggal Dunia

Editor: Sudarwan
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved