Breaking News:

Jadi Buruan Pecinta Kopi dari Luar Negeri, PTBA Bangkitkan Asa Petani Kopi Arabica dari Semende

Banyak sejarah mencatat, Kopi Semende sudah sejak lama dinikmati dan menjadi buruan pecinta kopi baik dari dalam maupun luar negeri.

Penulis: Ardani Zuhri | Editor: Welly Hadinata
Sripoku.com/Ardani Zuhri
Petani Kopi Semende : Petani Kopi Binaan PTBA 

Padahal pertumbuhan Kopi sangat cocok dengan iklim di Semende. Selama ini, hanya budidaya kopi robusta dengan ilmu seadanya (otodidak) dan tidak tahu ilmunya untuk menggali potensi kopi Arabica.

Dan ternyata, kopi Semende jenis Arabica tidak kalah kelasnya dengan jenis kopi lainnya.

Dan memiliki harga lebih mahal dari jenis Robusta. Akan tetapi, kami tidak bisa menggali potensi lebih dalam dari jenis kopi Arabica Semendo varian Vivica dan Kardica.

Mulai dari budidaya, pengolahan dan pengemasan, sebelum menjadi mitra Corporate Social Resposibilty (CSR) PT Bukit Asam Tbk (PTBA) di tahun 2013.

Padahal, varian Arabica dari kopi Semende tersebut menurut Pusat Penelitian Kopi di Jember Jawa Timur memiliki nilai skor tidak jauh beda dari daerah lain.

Bahkan bisa diadu dari citra rasa serta sudah bersertifikat Kementerian. Atas hal tersebut, keyakinan kami bertambah kuat, bahwa Kopi Arabica Semende ini bisa membantu pemerintah mengurangi tingkat kemiskinan.

Dengan disupport PTBA merekapun diberangkatkan ke Kabupaten Pengalengan, Jawa Barat, untuk menimba ilmu kopi Arabica pada tahun 2019, dan telah mendapatkan sertifikat Pelatihan Budidaya Tanaman Kopi dan sertifikat Pelatihan Roasting Kopi di Coffetography. 

Setelah kembali dari menimba ilmu dari ahli kopi internasional, dan kembali ke tengah-tengah masyarakat petani kopi, muncullah beberapa kendala yang dirasa sulit tidak bisa terelakan, tapi diyakini bisa diatasi, yakni merubah mindset masyarakat dalam menangani kopi.

Dan kita harus dengan sabar untuk mengajak masyarakat petani kopi dalam merubah mindset mereka dari pola pikir petani kopi tradisional menjadi petani kopi yang profesional.

Tapi, lambat laun masyarakat bisa menerima pola yang dirasa baru, mulai dari penanganan kopi Arabica tidak bisa dilakukan perorangan harus kelompok, pemilihan bibit kopi, pola tanam dengan media pasir, polybag, bahkan dengan cara zig - zag, panen pun harus petik merah, penjemuran hanya boleh dilantai, prosessing standar internasional dan packaging atau pengemasan kopi pun tidak boleh asal-asalan ada caranya.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved