Breaking News:

Berita Musirawas

Cerita Ruslam Petani di Musi Rawas Resah dan Menolak Impor Beras 1 Juta Ton, 'Dak Masuk Akal'

Para petani di Kabupaten Musi Rawas (Mura) Sumsel resah adanya wacana pemerintah pusat melakukan impor beras 1 juta ton.

Tribunsumsel/Eko
Ruslan petani di Desa F Trikoyo Kecamatan Tugu Mulyo Musirawas saat sedang menjahit karung beras untuk dijual 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS -  Para petani di Kabupaten Musi Rawas (Mura) Sumsel resah adanya wacana pemerintah pusat melakukan impor beras 1 juta ton.

Dalam waktu dekat sebagian wilayah central padi di Kabupaten Musi Rawas seperti Kecamatan Tugu Mulyo dan Kecamatan Megang Sakti mulai memasuki musim panen.

Ruslan petani di Desa F Trikoyo Kecamatan Tugu Mulyo pun mengaku sangat tidak setuju dengan rencana pemerintah pusat melalukan impor beras dalam waktu dekat.

"Dari pengalaman yang sudah-sudah sampai sekarang kita kabupaten Musi Rawas tidak pernah kekurangan beras, bahkan cendrung setiap tahun melimpah," ungkap Ruslan pada wartawan, Jumat (26/3/2021).

Pria berusia 60 tahun ini berujar rata-rata para petani di tempat tinggalnya tidak setuju dengan wacana tersebut, apabila sampai terealisasi harga beras ditingkat terancam anjlok.

"Belum impor saja penurunan harga beras ditingkat petani hanya dihargai Rp 8 ribu sampai 8,2 ribu per kilogramnya, apalagi kalau datang beras impor," ujarnya.

Diperparah beberapa waktu lalu saat memasuki musim tanam harga pupuk melambung tinggi, untuk pupuk subsidi dari pemerintah saja ada harga, namun, barangnya tidak ada.

"Harusnya belajar contoh kecil saja, bila beras dari Belitang OKU Timur atau beras dari provinsi Lampung masuk secara otomatis beras musih rawas akan langsung turun apalagi kalau impor," ungkapnya.

Sementara, kebanyakan petani di Kabupaten Musi Rawas bukan dalam petani dalam jumlah besar, ketika sehabis masa panen gabah bisa disimpan, tapi lebih kepada setelah panen padi langsung giling dan jual.

"Karena rata-rata hanya cukup untuk makan, termasuk menggarapnya kita garap sendiri, tidak ada yang ngupah, karena kalau upah tidak sebanding dengan hasil panen, sedikit sekali," paparnya.

Halaman
12
Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved