Breaking News:

Pengelolaan Gambut Lestari Melalui “Water Ballance”

Pengelolaan lahan gambut di Indonesia akhir-akhir ini seringkali mendapatkan sorotan tajam dari berbagai kalangan terutama dari penggiat lingkungan.

NET
ilustrasi gambut yang terbakar di Sumsel 

2) sebagai pemasukan air,

3) sebagai alat trasportasi,

4) berfungsi sebagai kon­ser­vasi sumberdaya air rawa, dan

5) sebagai pendukung bagi proses reklamasi.

3. Mikro Water Management.

Merupakan suatu sistem pengelolaan tata air di areah la­han gambut/rawa dengan unit terkecil pengelolaanya menggunakan blok/ petak beserta ke­lengkapan sebagai berikut.

Parit Tersier, Parit Kolektor, Overflow/ Water Control, TPN dan Jalan Supervisi.

Adapun funsi dari Mikro water management meliputi ;

1). Men­cu­kupi kebutuhan pertumbuhan tanaman,

2). Mencegah pertumbuhan tanaman liar,

3). Men­cegah terjadinya bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencu­ci­an,

4). Mengatur tinggi muka air tanah, dan

5). Mengontrol kualitas air di petakan lahan dan di saluran.

Untuk lebih memperlancar keluar masuknya air pada petakan lahan yang se­kaligus memperlancar pencucian bahan racun, melalui pembuatan saluran cacing pada petakan lahan dan di sekeliling petakan lahan.

4. Monitoring Water Management. 

Merupakan suatu sistem monitoring terhadap ke­gi­atan penataan air di lahan gambut guna mendapatkan data-data pendukung yang akurat dan tepat serta dapat dipergunakan sebagai acuan kegiatan berikutnya.

Data tersebut me­liputi: intensitas curah hujan harian, Water Level, Water Table, Peat Subsidence, Tidal Monitoring.

Secara umum kriteria pengelolaan air yang baik pada HTI di lahan gambut dapat di­gam­bar­kan sebagai berikut tinggi muka air tanah untuk tanaman Akasia (Accacia Crassicarpa sp) a­dalah kurang dari 0,4 meter.

Pada level tinggi muka air tanah tersebut perakaran masih dapat tetap berkembang dengan baik, gambut tetap terjaga kelembabannya.

Sehingga, megurangi re­siko bahaya kebakaran lahan dan hutan serta dapat mengurangi resiko penurunan gambut (pe­at subsidence) dan menghindari keracunan pirit.

Untuk tetap menjaga tinggi muka air tanah yang optimal diperlukan infrastruktur pendukung yang memadai, instrumen monitoring serta sistem pendataan yang baik.

PT. Rimba Hutani Mas saat ini terus melakukan perbaikan dan pengembangan secara terus menerus guna men­da­patkan sistem yang tepat dalam pengelolaan lahan gambut yang lestari.

Pada saat ini PT. Rimba Hutani Mas telah memanfaat teknologi mutakhir dalam mendukung pengelolaan lahan gambut seperti pemanfaatan teknologi LIDAR untuk pemetaan topografi, pe­metaan sebaran gambut dan pemetaan hidrologi.

Selain itu PT. Rimba Hutani Mas me­man­faatkan teknologi drone untuk analisa hidrologi mikro dan survey detail mikro planning.

Sedangkan untuk instrumen monitoring tinggi muka air tanah, selain menggunakan tehnik manual, PT. Rimba Hutani Mas telah memasang beberapa instrumen water logger yang dapat me­rekam data secara otomatis.

Water logger dipasang tengah petak dalam setiap zona dan se­bagian dipasang di sungai pasang surut untuk mengetahui karakteristik sungainya.

Dalam hal pelaporan data water management PT. Rimba Hutani Mas telah mengembangkan program WMMS atau Water Management Monitoring System yang menggunakan sistem on­line sehingga data dapat terekam dan terintegrasi dengan baik.

Dari data-data tersebut ke­mu­dian dianalisa menggunakan program OWMS atau Operational Water Management Sys­tem yang dapat dipergunakan untuk analisa hidrologi serta sebagai early warning system wa­ter ma­nagement.

Dalam program OWMS dapat memberikan peringatan dini apabila ada kondisi air yang mulai kering atau banjir.

Program-program tersebut terus akan dikem­bang­kan dan disempurnakan sebagai bentuk keseriusan PT. Rimba Hutani Mas dalam membe­ri­kan upaya melindungi ekosistem gambut.

Selain hal tersebut PT. Rimba Hutani Mas juga menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga dan elemen pemerhati lingkungan baik itu dari pemerintah maupun non pemerintah untuk te­rus menerus berupaya tetap konsisten menjaga kelestarian ekosistem gambut.

Dalam mengelola lahan secara lestari dibutuhkan banyak investasi yang harus dilakukan per­usahaan, untuk dapat mengoptimalkan pembangunan hutan tanaman.

Hal ini dalam kaitan optimalisasi dibutuhkan proses infrastruktur yang tepat untuk mengatur tata air di lahan.

Dan ju­ga dilakukan dalam menerapkan system "Water Zoning" diterjemahkan dengan pembagian zonasi areal berdasarkan elevasi lahan yang relatif seragam dimana pada perubahan elevasi la­han akan dibuatkan zonanya dan diatur outletnya sehingga tinggi muka air dilahan dapat dipertahankan sesuai dengan kebutuhan.

Harapan kedepannya kelembaban dari tanah, dijaga baik itu dimusim kemarau maupun musim penghujan.

Semakin berkembangnya teknologi di dalam pengelolaan sistem water management sangat dimungkinkan untuk menciptakan sistem yang lestari di dalam pengelolaanya.

Salah satu con­toh adalah penerapan system water zoning yang menekankan pada pembagian zonasi areal ber­dasarkan keseragaman elevasi lahan.

Selain untuk mencukupi kebutuhan air pada tanaman pem­bagian zonasi ini juga untuk menjaga bahaya kebakaran di areal konsesi yang berbatasan langsung dengan areal Hutan Produksi yang tidak ada pemegang hak.

Pada intinya semua yang dilakukan didalam water management baik itu fungsinya untuk per­tumbuhan tanaman maupun untuk proses pencegahan terjadinya kebakaran hutan.

Lahan di areal rawa yang sangat dibutuhkan adalah permasalahan “Water Ballance” keseimbangan air yang berada di suatu areal untuk kelestarian areal rawa baik itu bergambut ataupun tidak.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved