Breaking News:

Peneliti Tokoh Pers 

PK Ojong dan Jakob Oetama Dalam Catatan Generasi Muda Peneliti Tokoh Pers 

“OK,  Kemarin sy dan Pak Asvi bicara utk pengusulan R. Soeprapto Jaksa Agung 1950-1959...salam” Ini pernyataan Prof Dr Susanto Zuhdi, S.Hum. M.Hum.

Editor: Salman Rasyidin
PK Ojong dan Jakob Oetama  Dalam Catatan Generasi Muda Peneliti Tokoh Pers 
ist
Dasman Djamaluddin SH.MHum

Oleh  : Dasman Djamaluddin SH.MHum

Mantan Wartawan Sriwijaya Post, Jusnalis dan Sejarawan

“OK,  Kemarin sy dan Pak Asvi bicara utk pengusulan R. Soeprapto Jaksa Agung 1950-1959...salam”

Ini pernyataan Prof Dr Susanto Zuhdi, S.Hum. M.Hum kepada saya, 18 Maret 2021.

Ia adalah sejarawan Indonesia yang ahli dalam bidang sejarah maritim.

Saat ini dia me­n­jadi guru besar di Departemen Sejarah Universitas Indonesia dan mengajar di Pro­gram Pascasarjana Ilmu Sejarah Universitas Indonesia.

Dalam komentar Prof. Dr. Susanto Zuhdi terucapkan nama Asvi.

Ya, itu juga adalah se­jarawan Indonesia, Asvi Warman Adam.

Tanggal 26 Juli 2018 menjadi hari yang mem­banggakan bagi civitas Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan In­do­nesia (LIPI). 

Betapa tidak, peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI, Dr. Asvi Warman Adam, pada hari itu dilantik menjadi Profesor Riset bidang Sejarah Politik.

Ke­dua Profesor tersebut sering diminta untuk menjadi pembicara dalham rangka memberi masukan untuk menetapkan seseorang itu menjadi Pahlawan Nasional, kali ini untuk tahun 2021.

Untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nadional, maka setiap provinsi nantinya akan me­ngajukan bakal calon Pahlawan Nasional.

Siapa yang nantinya akan ditetapkan men­jadi Pahlawan Nasional, semuanya diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pem­­berdayaan Sosial tentang Pedoman Umum Prosedur Pengusulan Gelar Pahlawan Na­sional.

Apalah dimungkinkan pula seorang jurnalis menjadi Pahlawan Nasional?

Sudah ten­tu. Mereka diusulkan dari berbagai bidang dan kalangan.

Di bidang wartawan yang kita kenal telah menjadi Pahlawan Nasional :

1. Mohammad Hatta

Meski harus berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda, Mohammad Hatta, menjadi pahlawan nasional yang berperan di bidang jurnalistik.

Hatta mulai menulis se­jak dirinya bersama Syharir ditangkap dan diasingkan Belanda ke Digul serta Ban­da Neira pada 25 Februari 1934.

Hatta mulai menulis untuk koran-koran Jakarta dan majalah-majalah di Medan, Su­ma­tera Utara.

Namun, tulisan wakil presiden pertama RI di media cetak tersebut, ti­dak berbau politis, melainkan penuh analisis untuk mendidik pembaca.

2. Ki Hajar Dewantara

Siapa yang tak kenal dengan tokoh satu ini. Ki Hajar Dewantara, yang juga dikenal se­bagai Bapak Pendidikan Nasional.

Ki Hajar adalah seorang aktivis pergerakan ke­merdekaan RI, kolumnis, politikus, pelopor pendidikan bagi kaum pribumi dari masa pen­jajahan Belanda, dan juga pendiri Perguruan Taman Siswa.

Ki Hajar lahir dari ka­langan bangsawan di tanah Jawa.

Mungkin itu sedikit contoh yang bisa kita sebutkan beberapa wartawan yang menjadi Pahlawan Nasional, di antara beberapa wartawan lainnya.

Minat Generasi Muda dalam Bidang Penelitian.

 Ilmu Komunikasi, Fakultas Il­mu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang menemui saya  di Fa­kul­tas Hukum  Universitas Indonesia, Depok pada tanggal 20 Februari 2018.

Seka­rang, se­buah perguruan tinggi sudah diarahkan untuk melakukan penelitian, termasuk pe­nelitian di bidang pers.

Mahasiswa dan mahasiswi ini tergabung dalam sebuah kelompok bernama Ar­ka­ma­ya, merupakan tim performace research tentang jejak tokoh pers Indonesia.

Di antara tokoh pers yang mereka teliti itu adalah PK  Ojong dan Jakob Oetama.

PK O­jong, atau nama lengkapnya Petrus Kanisius Ojong atau Auw Jong Peng-Koen ada­lah wartawan, guru, dan pengusaha yang dikenal sebagai salah satu pendiri Kelompok Kompas Gramedia.

Ojong menjadi jurnalis sejak awal usia 30-an. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki.

Di antara beberapa buku yang ditulis P.K Ojong dan  menarik untuk dibaca adalah Kom­pasiana ( Jakarta: PT. Gramedia, 1981).

Buku setebal 813 halaman ini meru­pa­kan tulisan P.K Ojong  di bidang pers, politik, asimilasi, cendekiawan, pelayanan ma­sya­rakat, tertib hukum, kebudayaan, ekonomi, kepemimpinan dan kota Jakarta.

Kompasiana pada mulanya adalah sebuah rubrik harian Kompas yang banyak peng­ge­marnya.

Rubrik ini  muncul pada bulan April 1966 dan bertahan hampir lima tahun la­manya.

Selain meneliti P.K Ojong, mahasiswa dan mahasiswi itu juga meneliti tokoh pers Ja­kob Oetama, yang semula bercita-cita ingin menjadi pastor.

Maka, begitu lulus Se­ko­lah Menengah Pertama (SMP) Pangudi Luhur,  Yogyakarta, tahun 1945, ia masuk se­mi­nari (Latin : seminarium=persemaian) di Yogyakarta, jenjang terendah dalam pro­ses pendidikan calon imam Katolik.

Jakob Oetama semula bernama Jakobus Oetomo, mengikuti pendidikan seminari ber­pindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Setelah di Yogyakarta, beberapa bu­lan di Ambarawa, kemudian di Ganjuran, Bantul, kemudian di Muntilan, terakhir di Yogyakarta.

Singkat cerita, setelah lulus seminari menengah tahun 1952, pendidikan Jakob Oe­ta­ma berlanjut di seminari tinggi.

Hanya tiga bulan, Jakob mengundurkan diri.

Dalam curriculum vitae-nya, nama lengkap Jakob adalah  Dr. Drs. Jakob Oetama.

Ia  a­­da­lah guru, wartawan, dan pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai salah satu pen­diri Surat Kabar Kompas.

Dia pernah menjabat sebagai Presiden Direktur Kompas Gra­media, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Kon­federasi Wartawan ASEAN.

Jakob lahir pada tanggal 27 September 1931, Kecamatan Borobudur dan meninggal pada 9 September 2020, di Jakarta.

Meninggalnya Jakob Oetama disiarkan Kompas TV.

Seperti disiarkan oleh Kompas TV,  jenazah Jakob Oetama waktu itu masih berada di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara dan selanjutnya pihak ke­lu­arga menyerahkan jenazah Jacob Oetama kepada negara untuk kemudian dima­kam­kan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Pada tahun 2019, saya masih menulis mengenai Tokoh Pers Indonesia Jakob Oetama ter­sebut di Kompasiana, tepatnya pada hari Jumat, 27 September 2019, ketika Kelom­pok Grup Kompas akan memperingati Hari Ulang Tahun ke-88 beliau.

Jakob Oetama adalah tokoh yang disegani dan dihormati oleh para tokoh pers In­do­nesia lainnya.

Pada waktu itu, sudah tentu selain bersyukur, mereka juga merasa ka­gum dengan pria kelahiran Borobudur, Magelang, 27 September 1931 tersebut.

Secara pribadi, saya memiliki pengalaman bersama almarhum Jakob Oetama.

Itu ter­jadi pada hari Kamis, 26 Juli 2012, ketika diajak Ketua Umum Legiun Veteran Re­publik Indonesia (LVRI) Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian "Kompas" Dr (HC) Jakob Oetama tersebut.

Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini ber­senda gurau di lantai VI Harian Kompas.

Kemudian, Jakob Oetama menyatakan ke­se­diaannya menulis Sekapur Sirih dalam buku yang saya tulis: Catatan Rais Abin Pang­lima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah 1976-1979 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, September 2012).

Jakob Oetama adalah orang yang sangat konsisten dengan tugasnya sebagai war­ta­wan. Waktu itu ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia.

Se­orang rekan pernah bercerita kepada saya, bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soe­harto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko. Me­mang benar tawaran tersebut, tetapi Jakob Oetama menolaknya.

Pada waktu pembicaraan di Gedung Kompas , Palmerah Jakarta Selatan ini, Jakob Oe­tama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang kemudian diper­caya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.

Mantan wartawan senior Harian Kompas August Parengkuan ini pun telah meninggal dunia hari Kamis, 17 Oktober 2019 di RS Medistra Jakarta pukul 05.50 WIB dalam u­sia 76 tahun.

Tentang Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin, siapa yang tak kenal beliau. Ber­bi­ca­ra perdamaian Timur Tengah antara Mesir dan Israel dengan disepakatinya Perjanjian Camp David, tahun 1979 tak seorang pun menyangka bahwa perdamaian itu bisa ter­selenggara berkat laporan Rais Abin kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) yang dijabat Kurt Waldheim.

Rais Abin lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat, 15 A­gus­tus 1926. Tanggal 15 Agustus 2020 yang lalu, Rais Abin genap berusia 94 ta­hun.

Usia sepuh, tetapi tidak menyurutkan semangat untuk terus menyumbangkan berbagai pe­mikirannya terhadap bangsa dan negara ini. Kapan saja, di mana saja, di usia be­rapa saja. Itulah kelebihan dari seorang Tentara Nasional Republik Indonesia (TNI).

Pulang dari Harian Kompas, saya diajak semobil dengan Rais Abin.

Di perjalanan be­liau banyak cerita tentang Veteran.

Bung , ujarnya, "... hari Selasa sore kemarin (24 Juli 2012), saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden.

Ya, sekalian melaporkan akan mengadakan Kongres bulan Oktober , jelasnya lagi.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved