Breaking News:

Menuju Keberislaman yang Transformatif

Tidak bisa kita mungkiri, keberadaan Islam di permukaan bumi yang dibawa Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman manusia.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Dr. A. Rifai Abun 

Sayangnya, dimensi horisontal ini tidak terwujud dengan baik dalam kehidupan penganutnya, khususnya dalam interaksi dengan sesamanya.

Gejala keagamaan yang seperti itu juga tampak dalam corak keberislaman masyarakat Indonesia.

In­dikasinya dapat dilihat dari mudahnya umat muslim terpecah belah dan saling berkonflik hanya ka­rena isu-isu kecil yang tidak subtansial.

Belakangan, ketika agama diseret terlalu jauh masuk ke ra­nah politik praktis, kondisinya menjadi kian parah.

Agama lantas kehilangan etos trans­for­ma­tifnya sebagai katalisator perubahan sosial. 

Ketika agama kehilangan etos transformatifnya, maka ia tidak ubahnya seperti seperangkat doktrin yang mati.

Padahal, agama terutama Islam memiliki se­gudang ajaran dan nilai yang potensial dijadikan sebagai penggerak perubahan sosial.

Tinggal ba­gaimana para pemeluknya memaksimalkan potensi tersebut.

Kita baru saja memasuki tahun baru 2021 Miladiah dan momentum perubahan tahun ini, baik tahun hijriah maupun miladiah seharusnya bisa memberikan energi baru bagi umat muslim Indonesia.

Se­bu­ah energi untuk mengembalikan Islam ke fitrahnya sebagai agama transformatif, agama yang di­na­mis, peka pada konteks sosial politik di zaman --dimana ia berkembang.

Islam memang menjadi le­bih samarak akhir-akhir ini dengan tampilnya simbol-simbol Islam di ruang publik.

Acara ke­is­lam­an mulai dari pengajian, seminar dan festival digelar nyaris saban hari di berbagai kota.

Industri ber­basis gaya hidup Islam pun tumbuh subur dan menunjukkan prospek yang menjanjikan.

Namun, se­mua itu tidak mewakili etos Islam yang transformatif. Islam transformatif merupakan sebuah ko­mitemen ke-Islam-an yang lebih menitikberatkan pada pencapaian kesalahen sosial ketimbang kesalehan individual.

Ini tidak berarti bahwa relasi teologis vertikal manusia dengan Tuhan itu menjadi tidak penting.

N­a­mun, keberislaman yang paripurna adalah paduan antara wujud ke­pasrahan hakiki pada Tuhan dan komitmen teguh pada pemberdayaan sosial terhadap sesama.

Ga­gasan Moeslim yang populer di era 1980-1990 an ini agaknya tepat untuk menjadi semacam oto­kritik terhadap praktik keberislaman yang mengemuka di kalangan muslim Indonesia belakangan ini.

Fenomena islamisasi dalam bentuk gerakan hijrah, pertaubatan massal dan sejenisnya yang marak akhir-akhir ini harus diakui cenderung berorientasi pada kesalehan pribadi.

Secara lebih jauh, Islam dipahami semata sebagai seperangkat ritual dan simbol tanpa berupaya menyingkap makna filosofis-teologis di baliknya.

Konsekuensinya, Islam menjadi tampak formal, kaku dan gagal menyentuh realitas sosial yang sesungguhnya.

Nyaris semua muslim sibuk mengejar sta­tus sebagai muslim kaffah, namun di saat yang sama cenderung mengabaikan pada isu dan pro­blem sosial di sekelilingnya.

Corak keberislaman yang demikian itu jelas harus diubah.

Mengacu pada pemikiran Ali Asghar Eng­ineer, seorang muslim bukanlah seorang yang sekadar mengucap syahadat dan menunaikan sho­lat.

Seorang muslim, menurut Engineer dituntut memiliki kepedulian sosial, berkomitmen mem­per­juangkan keadilan bagi sesama dan inisiator bagi terwujudnya transformasi sosial.

Seorang muslim ialahagent of changedalam struktur masyarakatnya.

Pada titik inilah penting bagi umat muslim Indonesia untuk mengembangkan corak keberislaman yang transformatif.

Islam idealnya tidak melulu dipahami sebagai seperangkat ritual dan simbol yang beku dan tidak memiliki fungsi transformasional.

Islam harus ditempatkan sebagai modal so­sial (social capital).

Seperti dijelaskan oleh sosiologi Pierre Bourdieu, modal sosial merupakan elemen penting bagi terjadinya perubahan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.

Untuk itulah, kita perlu menggali ajaran-ajaran Islam yang bisa jadikan modal sosial untuk meng­gu­lirkan perubahan di tengah masyarakat.

Kita perlu mencontoh polarisasi Dakwak Nabi Muhammad dimana pada priode Mekah lebih menitikberatkan pad aspek keimanan.

Namaun ketika di Madinah lebih menyentuk persoalan sosial kemasyarakatan Polarisasi dakwah semacam itu, semata-mata bukan untuk kepentingan pribadi keluarga dan kelompoknya, akan tetapi semua itu dilakukan oleh Nabi untuk memperjuangkan kepentingan banyak orang. 

Juga tidak hanya menitik beratkan kepada kesalehan individualnya saja, namun Nabi Muhammad juga berkomitmen penuh pada kesalehan sosial, dengan mewujudkan tatatan kehidupan yang saling menghargai, saling menghormati dan bahkan saling berdampingan.

Apa yang menjadi titik sentral dari paradigma dakwah Nabi tersebut, di antaranya adalah sebuah peng­hormatan terhadap manusia lain di luar komunitasnya.

Islam memandang manusia a­da­lah ma­kh­luk Allah yang mulia dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Manusia diberikan ke­lebihan o­leh Allah berupa akal dan bentuk ciptaan yang sempurna.

Pemulian Allah terhadap ma­nusia ini me­ru­pakan modal dasar bagi manusia untuk selalu menghormati orang lain dalam ke­hidupan sehari-hari. 

Dalam salah satu firman Allah menyebutkan: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki da­ri yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al Isra’: 70)

Sa’at ini muncul sebuah fenomena sosial-keagamaan, dan mewabahnya virus (baca: hijrah) yang sa­lah kaprah, bahkan menjurus ke arah radikalisasi dan komodifikasi agama yang merupakan sebuah ancaman bagi Islam itu sendiri.

Jika dibiarkan berlarut tanpa adanya kritik yang konstruktif, bukan tidak mungkin fenomena itu justru lebih mendatangkan kerugian (madharat) ketimbang manfaat bagi Islam itu sendiri.

Oleh karena itulah, dengan memasuki tahun baru 2021 miladiah penting bagi umat muslim In­do­nesia untuk merenungkan kembali makna dari lokus dakwah yang dicontohkan dan dipratekkan Nabi Muhammad SAW.

Jika kita merujuk pada praktik Nabi Muhammad, tampak jelas bahwa e­sen­si atau lokus dari dakwah yang dibangun Nabi saat di Madinah berupaya mengubah mind­setdan perilaku.

Jika dikontekstualisasikan dengan kondisi Indonesia saat ini yang tengah diterpa oleh berbagai isue, sebaiknya kita berupaya untuk merekonstruksi nalar keberagamaan kita yang cenderung intoleran, ka­ku dan eksklusif, menjadi lebih ideal dan dimaknai sebagai sebuah prilaku perjalanan spiritual se­orang muslim untuk lebih memahami hakikat keberagamaan dan kebertuhanan.

Maka, dalam mak­na yang demikian itu, tentunya tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah tampilan luar saja. 

Lebih dari itu, seharusnya diiringi dengan semangat mempelajari dan mendalami ilmu keagamaan se­cara komprehensif.

Puncak dari itu, paradigma cara berpikir kita bukan saatnya lagi untuk selalu mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah penganut Islam paling kaffah. 

Akan tetapi sudah wak­tunya untuk terlibat langsung dan atau tumbuhnya kepekaan sosial. 

Menjadikan diri kita seba­gai seorang muslim yang berkepribadian lebih moderat-terbuka dan hidup dalam alam aesketisme a­lias tidak bermewah-mewahan.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved